JAKARTA – Kepala Hak Asasi Manusia (HAM) PBB Volker Turk pada Hari Jumat menyerukan “perubahan tegas” menuju de-eskalasi dan perdamaian di Ukraina.
Turk mendesak dimulainya kembali perundingan sembari memperingatkan bahwa perang tersebut telah berubah menjadi “bencana hak asasi manusia” yang kian memburuk dari minggu ke minggu.
“Cara perang ini dijalankan hingga saat ini tidak boleh dibiarkan menentukan masa depannya. Kita membutuhkan perubahan tegas menuju de-eskalasi dan perdamaian,” ujar Turk di hadapan Dewan Hak Asasi Manusia PBB di Jenewa, Swiss, melansir Anadolu (2/10).
Lebih lanjut Turk menyatakan, membangun kembali momentum menuju perundingan adalah hal yang krusial, seraya menyerukan langkah-langkah pembangunan kepercayaan yang dapat mengurangi dampak permusuhan terhadap warga sipil.
Langkah-langkah tersebut dapat mencakup kesepakatan untuk menghentikan serangan terhadap target ekonomi dan infrastruktur energi, gencatan senjata lokal di sepanjang garis depan, pemberian akses bagi warga sipil untuk meninggalkan Oleshky, serta pertukaran penuh tawanan perang, ujarnya.
Turk juga mendesak masyarakat internasional, khususnya negara-negara yang memiliki pengaruh, untuk mengambil “tindakan mendesak guna mendorong perdamaian melalui perundingan saat ini juga, sebelum tragedi ini menjadi semakin parah.”
Kepala HAM tersebut mengatakan, kantornya telah memverifikasi sekitar 15.280 warga sipil yang tewas dan terluka di seluruh Ukraina selama delapan bulan pertama tahun 2026, rata-rata lebih dari 400 orang setiap minggunya dan angka ini 55 persen lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025.
Menyebut Ukraina sebagai “laboratorium bagi peperangan pesawat nirawak (drone),” Turk mendesak adanya tindakan internasional untuk mengatasi “pembantaian” yang disebabkan oleh senjata semacam itu di seluruh dunia.
Ia menyebutkan, penggunaan bom luncur (glide bombs) dari udara oleh Rusia saja telah menewaskan atau melukai hampir 2.500 warga sipil dalam delapan bulan pertama tahun ini di wilayah Donetsk, Kharkiv, Sumy, dan Zaporizhzhia. Angka ini meningkat 62 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Turk juga menuduh pasukan Rusia meningkatkan serangan terhadap infrastruktur energi, supermarket, perusahaan pangan dan jaringan transportasi.
Sementara itu di Rusia, pasukan Ukraina dilaporkan telah menyerang gudang serta pusat logistik milik perusahaan e-commerce besar, dan juga kilang minyak, ujarnya.
Turk juga mengutip laporan terbaru yang mendokumentasikan lebih dari 1.000 kasus kekerasan seksual terkait konflik, di mana “89 persen di antaranya dikaitkan dengan pihak berwenang Rusia dan 11 persen dengan Ukraina.”
Menurut Turk, sebagian besar korban adalah laki-laki, terutama mereka yang berada dalam tahanan, meskipun perempuan dan anak-anak juga turut menjadi korban, “terutama di wilayah Ukraina yang diduduki.”
“Selain perdamaian, harus ada pertanggungjawaban,” ujarnya.
Kepala HAM PBB juga menyatakan keprihatinan mendalam atas pelanggaran hak asasi manusia yang terkait dengan kehadiran kombatan dari negara ketiga dalam perang ini.
Ia mencatat stafnya telah mewawancarai “tawanan perang dari 29 negara yang ditahan oleh Ukraina, dan banyak di antaranya mengaku tertipu hingga akhirnya bergabung dengan pasukan Rusia.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
