JAKARTA – Generasi Z dan milenial mendominasi tenaga kerja ekonomi kreatif Indonesia. Kementerian Ekonomi Kreatif mencatat sekitar 63 persen atau 17,26 juta dari 27,40 juta pekerja di sektor ini berasal dari dua kelompok usia tersebut.
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengatakan besarnya porsi generasi muda menunjukkan peran mereka semakin penting dalam mengolah budaya, kreativitas dan teknologi menjadi kegiatan ekonomi.
“Energi perubahan bangsa kerap hadir melalui tangan-tangan generasi muda yang berdaya cipta dan menciptakan inovasi strategis yang dapat berkontribusi pada perekonomian daerah serta menumbuhkan ekosistem ekonomi kreatif,” kata Riefky dalam keterangannya di Jakarta, seperti dikutip dari Antara, Kamis, 1 Oktober.
Data tersebut berasal dari Badan Pusat Statistik yang diolah Kementerian Ekonomi Kreatif.
Tenaga kerja muda itu tersebar di 21 subsektor ekonomi kreatif yang dikelompokkan dalam empat klaster. Mulai dari seni dan budaya, desain, teknologi dan digital, hingga media.
Menurut Riefky, tantangannya bukan hanya menghasilkan gagasan. Generasi muda juga perlu mendapat ruang agar ide tersebut berkembang menjadi karya, usaha baru dan lapangan kerja.
Karena itu, Kementerian Ekonomi Kreatif mendorong kolaborasi dengan berbagai pihak untuk menghubungkan gagasan anak muda dengan program yang lebih konkret.
Salah satunya dibahas dalam pertemuan Kementerian Ekonomi Kreatif dengan Yayasan Kartini Heritage Center.
Kedua pihak membicarakan konsep The Legacy Relay 2026 yang dirancang sebagai ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan gagasan menjadi karya dan aksi nyata.
“Audiensi antara Kementerian Ekraf dan Kartini Heritage Center ini berfokus pada integrasi peran pemuda ke dalam program strategis nasional berbasis daerah,” ujar Riefky.
The Legacy Relay 2026 akan digelar dalam momentum Sumpah Pemuda melalui forum khusus yang mengangkat pertanyaan “What Will Our Generation Leave Behind?”.
Forum tersebut direncanakan mempertemukan sekitar 200 peserta lintas generasi untuk menggali nilai perjuangan Mohammad Hatta, R.A. Kartini dan B.J. Habibie.
Peserta akan didorong menuangkan gagasan melalui konsep “200 Voices – 200 Letters – 28 Selected Ideas – 1 Book – 3 First Actions”.
Riefky mengatakan kegiatan itu juga berpeluang dikaitkan dengan World Conference on Creative Economy 2026 yang akan berlangsung di Jakarta pada 21–23 Oktober 2026.
Ketua Pengurus Yayasan Kartini Heritage Center Joddy Mulyasetya Putra mengatakan kolaborasi dengan pemerintah diharapkan dapat mendukung kegiatan yang berkaitan dengan kemandirian ekonomi.
“Kami berharap ekonomi kreatif bisa terus mendukung kami karena ke depan banyak sekali kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan kemandirian ekonomi,” ujar Joddy.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
