Rupiah Diprediksi Fluktuatif di Kisaran Rp17.980-Rp18.030 per Dolar AS



JAKARTA – Nilai tukar rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif pada perdagangan Rabu, 30 September. Tekanan terhadap rupiah masih berasal dari penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS, serta meningkatnya harga minyak dunia.

Pada perdagangan Selasa, 29 September 2026, rupiah spot ditutup di level Rp17.981 per dolar AS, melemah tipis 0,02 persen dibandingkan penutupan sebelumnya Rp17.978 per dolar AS.

Sepanjang perdagangan, rupiah sempat menembus level Rp18.000 per dolar AS. Bahkan, rupiah menyentuh posisi terlemah Rp18.031 per dolar AS pada pukul 09.31 WIB.

Sementara itu, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) melemah Rp33 atau 0,18 persen menjadi Rp17.998 per dolar AS.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, tekanan terhadap rupiah saat ini terutama berasal dari tingginya harga minyak dunia. Kenaikan harga minyak turut memperkuat ekspektasi pasar terhadap kemungkinan pengetatan kebijakan moneter lanjutan oleh Federal Reserve (The Fed).

” Kenaikan harga minyak dunia membuat pelaku pasar memperhitungkan adanya pengetatan kebijakan moneter lanjutan oleh The Fed,” ujar Ibrahim, dikutip Rabu, 30 September.

Selain harga minyak, kenaikan imbal hasil US Treasury juga menjadi tekanan bagi mata uang negara berkembang. Reuters melaporkan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sempat menembus 5,27 persen, level tertinggi dalam 19 tahun. Kondisi tersebut meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar AS.

Tekanan terhadap rupiah juga terlihat dari pergerakan mata uang regional. Pada Selasa, rupiah sempat melemah hingga Rp18.010 per dolar AS menurut data Reuters, sementara sejumlah mata uang Asia lainnya juga berada di bawah tekanan akibat kenaikan imbal hasil obligasi AS dan harga minyak.

Dari dalam negeri, pasar turut mencermati pengesahan APBN 2027. Pemerintah dan DPR menetapkan asumsi nilai tukar rupiah sebesar Rp17.500 per dolar AS dalam APBN 2027. Anggaran tersebut juga menetapkan target pertumbuhan ekonomi 6 persen dan inflasi 2,5 persen.

Sementara itu, Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75 persen pada rapat kebijakan September. BI sebelumnya telah menaikkan suku bunga acuan secara kumulatif 100 basis poin pada Mei dan Juni untuk membantu menjaga stabilitas rupiah.

Untuk perdagangan Rabu, Ibrahim memperkirakan rupiah bergerak pada rentang Rp17.980-Rp18.030 per dolar AS.

Pelaku pasar juga akan mencermati sejumlah data ekonomi Amerika Serikat, termasuk data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) yang dijadwalkan dirilis pada Rabu. Data tersebut menjadi salah satu indikator yang diperhatikan The Fed dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.

Selanjutnya, pasar akan menunggu data ISM Purchasing Managers’ Index (PMI) pada Kamis dan laporan Nonfarm Payrolls (NFP) pada Jumat. Pernyataan pejabat The Fed juga akan menjadi perhatian investor untuk memperoleh petunjuk mengenai arah kebijakan moneter AS selanjutnya.

Dengan berbagai sentimen tersebut, pergerakan rupiah pada perdagangan Rabu diperkirakan masih berlangsung volatil dengan level Rp18.000 per dolar AS menjadi salah satu area yang menjadi perhatian pelaku pasar.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *