JAKARTA – Tim peneliti dan arkeolog independen yang tergabung dalam Noah’s Ark Scans mengklaim telah mengonfirmasi 100 persen lokasi persemayaman Bahtera Nuh (Noah’s Ark). Kelompok penelitian yang dipimpin oleh peneliti asal Amerika Serikat, Andrew Jones, ini merilis rekaman video “pandangan pertama” dari dalam struktur bawah tanah di wilayah timur Turki.
Penyelidikan berfokus pada Formasi Durupınar, sebuah situs unik berbentuk menyerupai lambung kapal raksasa di dekat Gunung Ararat yang telah menjadi pusat perdebatan dan spekulasi arkeologi alkitabiah selama bertahun-tahun.
Dalam pembaruan video yang diunggah melalui akun resmi @noahsarkscans, tim peneliti memperlihatkan proses pengeboran dan penurunan robot miniatur bawah tanah yang diberi nama julukan “Gopher”. Robot berukuran kecil tersebut diturunkan ke dalam lubang bor setinggi 18 meter untuk mengambil bukti visual dari rongga bawah tanah yang telah dipetakan sebelumnya.
Meski demikian, misi penjelajahan bawah tanah tersebut sempat mengalami kendala teknis saat robot mendarat di struktur bagian dalam.
“Robot Gopher memerlukan beberapa modifikasi agar dapat melihat ke sekeliling dengan optimal, lantaran roda-rodanya mengalami kesulitan bergerak di atas sedimen tanah yang sangat gembur,” jelas tim peneliti Noah’s Ark Scans dalam keterangan resminya yang dikutip Daily Star, Minggu 27 September.
“Namun, sebagaimana hasil pemindaian radar yang kami lakukan sebelumnya, tidak ditemukan adanya struktur batu keras atau batuan induk (bedrock) di area rongga tersebut,” tambah laporan tersebut menegaskan bahwa temuan itu memperkuat indikasi keberadaan objek buatan manusia.
Indikasi Objek Buatan Manusia dan Hasil Pemindaian Radar
Formasi situs Durupınar selama ini dinilai oleh sebagian ahli geologi sebagai gundukan batuan alam. Namun, hasil pengujian terbaru menggunakan teknologi pemindaian laser serta radar penembus tanah (ground-penetrating radar) menunjukkan temuan yang berbeda.
Tim peneliti menemukan lapisan struktur geometris, garis-garis lurus, sudut siku-siku, hingga rongga-rongga besar di berbagai kedalaman. Pola-pola presisi tersebut mengindikasikan bahwa situs tersebut merupakan hasil karya atau peninggalan buatan manusia (man-made object), bukan terbentuk dari proses geologi alami.
Menurut catatan sejarah alkitabiah, kapal raksasa tersebut dibangun untuk menyelamatkan umat manusia serta berbagai jenis spesies hewan dari bencana air bah dahsyat yang diperkirakan terjadi lebih dari 4.300 tahun lalu.
Meskipun rekaman perdana dari robot Gopher memberikan bukti awal berupa rongga sedimen bawah tanah, tim Noah’s Ark Scans berencana melakukan modifikasi pada unit robot untuk melanjutkan ekspedisi visual yang lebih mendalam di situs bersejarah tersebut.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
