Perpustakaan Danantara Dibuka di Museum Nasional, 30.000 Buku Kini Bisa Diakses Publik


JAKARTA – Sekitar 30.000 buku koleksi Museum Nasional Indonesia kini dapat dimanfaatkan masyarakat melalui Perpustakaan Danantara. Koleksinya mencakup naskah sastra lama, arsip sejarah, hingga buku terbitan 1859. Namun, jumlah pengunjung dibatasi maksimal 20 orang per jam untuk menjaga kelestarian koleksi.

Perpustakaan hasil kerja sama Kementerian Kebudayaan dan Danantara Indonesia Trust itu diresmikan Menteri Kebudayaan Fadli Zon di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, Jumat, 25 September 2026.

Fadli mengatakan kerja sama tersebut membuka akses masyarakat terhadap puluhan ribu buku yang sebelumnya belum dapat dimanfaatkan secara optimal. Perpustakaan juga diharapkan mendukung kegiatan penelitian dan pendidikan di lingkungan museum.

“Buku-buku yang ada, 30.000 buku, tanpa kolaborasi ini, mungkin tidak bisa di-display atau dimanfaatkan dengan baik. Kolaborasi strategis ini mendorong perpustakaan dan museum sebagai elemen yang saling melengkapi,” kata Fadli.

Koleksi perpustakaan tersebut tidak hanya berisi buku umum, tetapi juga literatur budaya daerah, buku internasional, referensi sejarah, serta berbagai terbitan Museum Nasional.

Kepala Museum dan Cagar Budaya Indira Estiyanti Nurjadin mengatakan sejumlah koleksi unggulan memiliki nilai sejarah penting. Di antaranya arsip dan terbitan Batavia Genootschap, perkumpulan ilmiah pada masa kolonial Belanda, serta karya sastra Jawa, Serat Centhini.

Perpustakaan itu juga menyimpan buku Netherlands Oost-Indiƫ terbitan 1859 dan buku perjalanan karya Dr. S.A. Buddingh.

“Sementara ini beberapa koleksi unggulan adalah koleksi arsip dan terbitan Batavia Genootschap, koleksi sastra lama termasuk Serat Centhini, dan terbitan khusus Museum Nasional Indonesia yang berisi kajian sejarah, budaya, dan benda koleksi,” ujar Indira.

Untuk memudahkan pencarian buku, perpustakaan menggunakan Senayan Library Management System (SLiMS) dan katalog daring atau Online Public Access Catalog (OPAC). Pengunjung dapat menelusuri informasi koleksi melalui sistem tersebut.

Meski terbuka untuk masyarakat, kunjungan tidak dapat dilakukan secara bebas tanpa pengaturan. Pengelola menerapkan batas maksimal 20 pengunjung setiap jam. Masyarakat harus melakukan pendaftaran daring untuk memilih jadwal berdasarkan ketersediaan sesi.

Pembatasan tersebut diterapkan sebagai bagian dari upaya menjaga kelestarian koleksi, terutama buku dan dokumen bersejarah.

Selain ruang baca, perpustakaan menyediakan layanan informasi, ruang rapat, serta loker penitipan barang.

Fadli berharap keberadaan perpustakaan dapat memperkuat fungsi Museum Nasional sebagai pusat penelitian, dokumentasi, dan pembelajaran sejarah serta kebudayaan Nusantara.

Menurutnya, museum dan perpustakaan perlu saling mendukung agar warisan budaya tidak hanya tersimpan sebagai koleksi, tetapi juga dapat diteliti dan dimanfaatkan masyarakat.

Kerja sama Kementerian Kebudayaan dan Danantara Indonesia Trust juga diarahkan untuk memperluas akses pengetahuan dan mendukung pengembangan literasi budaya.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *