JAKARTA – Masuknya modal asing sebesar Rp140,7 triliun ke Indonesia belum tentu langsung menggerakkan perekonomian. Di tengah derasnya aliran dana tersebut, fasilitas kredit perbankan yang belum dicairkan masih mencapai Rp2.548 triliun hingga Juli 2026.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman, mengatakan kalau aliran modal asing melalui Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) memang membantu menjaga stabilitas rupiah dan kepercayaan pasar.
Namun, sebagian besar modal tersebut masih berupa investasi portofolio yang sensitif terhadap perubahan imbal hasil. Dana asing berisiko kembali keluar ketika kondisi pasar global berubah.
Menurut Rizal, tantangan utamanya bukan sekadar menarik modal asing, melainkan memastikan dana yang tersedia benar-benar mengalir ke sektor usaha.
Besarnya fasilitas kredit yang belum dicairkan menunjukkan likuiditas perbankan tersedia, tetapi permintaan kredit dan ekspansi usaha belum cukup kuat.
“Artinya, bottleneck ada pada transmisi, bukan semata pada suplai dana. Untuk itu, insentif likuiditas BI perlu lebih kuat dikaitkan dengan kredit investasi dan modal kerja ke sektor produktif,” kata Rizal seperti dikutip dari Antara, Jumat, 25 September.
Ia menilai Bank Indonesia perlu memperkuat insentif likuiditas agar perbankan lebih banyak menyalurkan pembiayaan ke sektor manufaktur, pertanian, hilirisasi, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta industri padat karya.
Rizal juga mengingatkan pemerintah agar imbal hasil instrumen keuangan tidak justru lebih menarik dibandingkan pembiayaan sektor riil. Kondisi tersebut berisiko membuat dana lebih banyak mengalir ke instrumen keuangan daripada kegiatan usaha.
Di sisi lain, modal asing yang masuk melalui SBN perlu dimanfaatkan pemerintah untuk belanja produktif. Belanja tersebut diharapkan mendorong investasi swasta dan meningkatkan aktivitas ekonomi.
“Ukuran keberhasilannya bukan berapa besar modal asing masuk, tetapi seberapa jauh modal tersebut akhirnya menambah investasi, kapasitas produksi, ekspor, dan penciptaan lapangan kerja,” ujar Rizal.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
