China Pasang 354 Ribu Robot Industri, Sumbang 59 Persen Pemasangan Baru Dunia


JAKARTA – Pabrik-pabrik di China semakin banyak menggunakan robot. Sepanjang 2025, negara itu memasang 354.000 robot industri, jumlah tertinggi yang pernah tercatat. Angka tersebut setara dengan 59 persen dari seluruh pemasangan robot industri baru di dunia.

Menurut China Daily, dikutip Jumat, 25 September, data tersebut tercantum dalam laporan World Robotics 2026 yang dirilis Federasi Robotika Internasional (IFR), Kamis, 24 September. China masih menjadi pasar robot industri terbesar di dunia, dengan pabrik elektronik sebagai pengguna utama.

Industri elektronik memasang 96.400 robot sepanjang 2025, naik 16 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Jumlah itu menyumbang 27 persen dari seluruh pemasangan robot industri di China.

Penggunaan robot di industri otomotif juga meningkat pesat. Pemasangannya naik 38 persen menjadi 78.900 unit, seiring berlanjutnya investasi dalam produksi kendaraan listrik dan manufaktur pintar.

Kenaikan lebih tinggi terjadi pada industri logam dan permesinan. Pemasangan robot di sektor ini melonjak 44 persen menjadi 78.700 unit.

Namun, tidak semua industri mengalami pertumbuhan. Pemasangan robot di industri makanan dan minuman justru turun 37 persen pada 2025, setelah melonjak 86 persen setahun sebelumnya.

Sementara itu, industri kertas dan produk kertas mencatat kenaikan pemasangan robot sebesar 15 persen.

Di tengah meningkatnya otomatisasi pabrik, produsen robot asal China juga memperluas penguasaan pasar dalam negeri.

Sepanjang 2025, pemasangan robot buatan China naik 15 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pangsa produsen lokal mencapai 55 persen dari seluruh robot industri yang dipasang di negara tersebut.

Sejak 2024, merek-merek China telah memasok lebih dari separuh kebutuhan robot industri di pasar domestiknya.

Meski demikian, produsen asing masih menikmati pertumbuhan permintaan. Pemasangan robot impor meningkat 27 persen pada 2025, menunjukkan pasar China tetap terbuka bagi pemasok internasional, terutama untuk kebutuhan industri berteknologi tinggi.

IFR menyebut penuaan penduduk dan perubahan demografi turut mendorong perusahaan mempercepat penggunaan robot. Otomatisasi menjadi salah satu cara produsen meningkatkan produktivitas dan menjaga kelangsungan produksi.

Pemerintah China juga menempatkan robotika dan kecerdasan buatan (AI) sebagai bagian penting dari strategi industrinya.

Melalui Rencana Lima Tahun ke-15 periode 2026–2030, China memprioritaskan kemandirian teknologi, modernisasi industri tradisional, dan pengembangan robot cerdas berbasis AI fisik.

AI fisik merupakan teknologi yang memungkinkan kecerdasan buatan mengendalikan mesin atau robot untuk berinteraksi langsung dengan lingkungan nyata.

“Keberhasilan China dalam memodernisasi sistem industrinya didasarkan pada strategi robotika nasional yang dimulai 10 tahun lalu,” kata Presiden IFR Jane Heffner.

Menurut Heffner, pembaruan kebijakan China bertujuan mendorong hasil penelitian AI agar dapat diterapkan secara langsung di sektor industri. Ia memperkirakan robot akan menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi negara tersebut.

IFR memperkirakan pasar robot industri China akan terus tumbuh dengan rata-rata pertumbuhan tahunan sebesar 5 hingga 10 persen hingga 2029.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *