
JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih menghadapi tekanan pada perdagangan Jumat, 25 September. Investor akan mencermati tekanan jual asing, pergerakan harga minyak, imbal hasil US Treasury, serta sentimen global.
Pada perdagangan Kamis 24 September, IHSG ditutup melemah 1,20 persen ke level 6.298,61. Indeks bergerak dalam rentang 6.287,45-6.368,57 dengan tekanan terutama berasal dari saham-saham berkapitalisasi besar, termasuk sektor perbankan.
Tekanan pasar juga tercermin dari aksi investor asing. Data perdagangan Kamis menunjukkan investor asing mencatatkan net sell sekitar Rp1,49 triliun di seluruh pasar.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta mengatakan pelemahan IHSG menunjukkan adanya aksi profit taking setelah indeks sempat menguat signifikan pada perdagangan sebelumnya.
Menurut Nafan, tekanan jual investor asing masih cukup kuat dan menyasar sejumlah saham berkapitalisasi besar, termasuk BMRI, BBRI dan TLKM. Ia memperkirakan IHSG memiliki level support di 6.254 dan 6.146, sementara resistance berada di 6.352 dan 6.429.
Sementara itu, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang memperkirakan IHSG berpotensi kembali menguji area 6.186-6.200 pada perdagangan Jumat.
Alrich mencatat IHSG ditutup di bawah MA5 dan MA100. Indikator histogram MACD juga masih berada di area negatif, sedangkan Stochastic RSI telah memasuki area oversold. Ia menempatkan level 6.200 sebagai support dan 6.400 sebagai resistance.
Proyeksi serupa disampaikan MNC Sekuritas. Dalam riset MNCS Daily Scope Wave untuk Jumat ini, MNC Sekuritas memperkirakan IHSG terlebih dahulu menguji rentang 6.208-6.258. Sementara area penguatan terdekat berada di 6.322-6.344, dengan support lanjutan di 6.108 dan resistance di 6.440-6.535.
Dari sisi eksternal, tekanan terhadap pasar saham masih berasal dari kenaikan imbal hasil US Treasury dan harga minyak. Data J Trust Bank menunjukkan yield US Treasury 10 tahun berada di 5,135 persen, sementara harga Brent mencapai 102,82 dolar AS per barel dan WTI berada di 92,14 dolar AS per barel.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global dan memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan The Fed. Penguatan dolar AS juga menjadi perhatian karena dapat memberikan tekanan terhadap rupiah dan arus dana asing di pasar domestik.
Di dalam negeri, Bank Indonesia pada Rabu 23 September mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen. Keputusan tersebut menjadi salah satu sentimen domestik yang perlu dicermati investor bersama perkembangan rupiah dan arus modal asing.
Dengan berbagai sentimen tersebut, pergerakan IHSG pada Jumat diperkirakan masih akan berada dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan menguji area support. Investor dapat mencermati level 6.200-6.258 sebagai area penting untuk melihat arah pergerakan indeks berikutnya.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
