Jangan Anggap Sepele Flu pada Anak, Ini Alasan Vaksin Influenza Perlu Setiap Tahun


JAKARTA – Influenza sering dianggap sebagai penyakit ringan yang cukup ditangani dengan istirahat dan perawatan di rumah.

Padahal pada kelompok tertentu, termasuk anak-anak, infeksi influenza dapat berkembang menjadi penyakit yang lebih serius dan memicu komplikasi. Salah satu langkah pencegahan yang dapat dilakukan adalah vaksinasi influenza secara rutin.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan vaksin influenza setiap tahun untuk anak mulai usia enam bulan. Pemberian vaksin ditujukan untuk membantu menurunkan risiko terkena infeksi sekaligus mengurangi kemungkinan terjadinya penyakit berat dan komplikasi akibat influenza.

“Vaksinasi influenza harus diberikan setiap tahun karena virus influenza terus berevolusi melalui antigenic drift dan antigenic shift. Vaksin tahun ini dirancang untuk mencocokkan strain yang diprediksi akan bersirkulasi,” kata Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropis IDAI Prof. Dr. dr. Anggraini Alam, Sp.A, Subsp IPT(K), seperti dikutip ANTARA, Senin, 21 September.

Menurut Anggraini, vaksinasi pada anak tidak hanya memberikan perlindungan bagi anak yang mendapat vaksin. Upaya tersebut juga dapat membantu melindungi anggota keluarga lainnya, terutama bayi berusia di bawah enam bulan yang belum bisa mendapatkan vaksin influenza.

Saat ini, vaksin influenza tersedia dalam beberapa jenis, yakni vaksin inaktif trivalen atau kuadrivalen serta vaksin hidup intranasal yang dapat diberikan kepada individu sehat berusia 2–49 tahun.

Vaksinasi juga disebut dapat menurunkan risiko infeksi sekitar 40 hingga 60 persen sekaligus membantu mengurangi tingkat keparahan penyakit dan komplikasi.

Rekomendasi vaksinasi tersebut muncul ketika aktivitas influenza di kawasan Asia Tenggara menunjukkan peningkatan.

Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang dipublikasikan melalui WHO Western Pacific Region untuk periode 1 September 2025 hingga 30 Agustus 2026, aktivitas influenza di kawasan Asia Tenggara terus mengalami peningkatan.

Sementara itu, pemantauan melalui sistem sentinel di Indonesia menunjukkan aktivitas positif influenza yang berfluktuasi sepanjang tahun. Puncak aktivitas tercatat pada akhir 2025, kemudian kembali terjadi peningkatan pada pertengahan 2026.

Kementerian Kesehatan RI juga melaporkan bahwa subtipe Influenza A H3N2 subklad K telah terdeteksi di 13 provinsi. Peningkatan jumlah pasien akibat influenza turut dilaporkan terjadi di Jawa Timur.

Anak menjadi salah satu kelompok yang perlu mendapat perhatian ketika aktivitas influenza meningkat.

Sekretaris Umum Pengurus Pusat IDAI DR Dr Hikari Ambara Sjakti, Sp.A, Subsp H.Onk(K) mengatakan anak merupakan kelompok yang rentan terhadap infeksi influenza.

“Data global menunjukkan anak usia 0–17 tahun memiliki risiko dua kali lebih tinggi untuk mengalami infeksi influenza simtomatik dibandingkan orang dewasa,” ujar Hikari.

Ia menjelaskan sistem imun anak masih naif sehingga tubuh mereka belum cukup kuat untuk segera mengendalikan dampak infeksi virus. Anak juga cenderung melepaskan virus dalam jumlah lebih banyak dan lebih lama sehingga berpotensi menjadi sumber penularan di lingkungan keluarga dan sekolah.

Data IDAI menunjukkan sekitar lima persen anak yang terinfeksi influenza memerlukan rawat inap. Dari jumlah tersebut, sekitar 80 persen merupakan anak berusia di bawah dua tahun, sementara 50 persen berusia kurang dari enam bulan.

Vaksinasi bukan satu-satunya cara untuk mengurangi risiko penularan influenza. IDAI juga mengingatkan pentingnya menerapkan sejumlah kebiasaan sederhana dalam keseharian, seperti mencuci tangan secara rutin, menggunakan masker ketika diperlukan, menerapkan etika batuk, serta tidak membawa anak yang sedang sakit ke sekolah maupun tempat bermain hingga kondisinya pulih.

Anak yang terinfeksi influenza juga dapat menularkan virus sejak sekitar 24 jam sebelum gejala muncul hingga 10 hari setelahnya. Karena itu, ketika anak mengalami influenza, orang tua dianjurkan memastikan anak mendapatkan istirahat yang cukup, memenuhi kebutuhan cairan, serta memberikan obat penurun demam sesuai indikasi.

Untuk pasien yang memiliki risiko tinggi atau mengalami gejala berat, pengobatan sesuai resep dokter dapat diberikan dengan dosis yang disesuaikan dengan usia dan berat badan. Penanganan tersebut idealnya dilakukan dalam 48 jam pertama setelah gejala muncul.

Orang tua juga perlu mengenali tanda-tanda yang membutuhkan perhatian medis segera. Sesak napas, demam tinggi yang tidak kunjung turun, penurunan kesadaran, hingga dehidrasi merupakan sejumlah tanda bahaya yang perlu diwaspadai. Jika gejala tersebut muncul, anak sebaiknya segera dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *