JAKARTA – Amerika Serikat menyatakan pintu negosiasi masih terbuka bagi Iran untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah. Washington juga menilai waktu berpihak kepadanya dalam konflik yang berlangsung sejak 28 Februari.
Menurut Anadolu Agency, dikutip Senin, 21 September, Duta Besar AS untuk PBB Mike Waltz menyampaikan pernyataan itu dalam acara Al-Monitor Live di New York, Minggu, di sela Sidang Umum PBB.
“Saya memang percaya demikian,” kata Waltz ketika ditanya apakah Washington menilai waktu berada di pihaknya.
Waltz mengatakan pintu masih terbuka bagi Iran untuk kembali ke meja perundingan. Ia juga menepis laporan yang menyebut Teheran meminta pencabutan sanksi AS dan pembayaran ganti rugi sebagai syarat untuk membuka kembali pembicaraan.
“Pintu masih terbuka bagi Iran untuk kembali ke meja perundingan,” kata Waltz.
Ia juga menyebut Iran berada pada posisi paling lemah sejak 1979 dengan merujuk tekanan ekonomi dan jatuhnya nilai mata uang negara itu.
“Rezim Iran berada pada titik terlemahnya sejak 1979 dan semakin melemah,” katanya.
Waltz mengatakan ia memperkirakan Iran akan kembali ke meja perundingan dan berharap proses itu berlangsung secara damai dan diplomatis.
“Mereka akan kembali ke perundingan. Saya berharap secara damai dan diplomatis,” lanjutnya.
Selain Iran, Waltz juga menyinggung Gaza. Ia menggambarkan pendekatan pemerintahan Presiden Donald Trump sebagai “jenis baru multilateralisme”.
Menurut Waltz, pembicaraan dengan Israel mengenai pelaksanaan rencana Gaza 20 poin Trump dapat bergerak maju setelah pemilihan parlemen Israel pada 27 Oktober selesai.
Rencana tersebut mencakup pemerintahan teknokrat Palestina, rekonstruksi, dan pembentukan Pasukan Stabilisasi Internasional. Pemerintahan teknokrat berarti pemerintahan yang diisi kalangan profesional atau ahli.
Sementara itu, pembicaraan mengenai pelucutan senjata Hamas dan penarikan pasukan Israel masih mengalami kebuntuan.
Waltz juga mengklaim ada sejumlah calon anggota yang tertarik bergabung dengan Abraham Accords untuk menormalisasi hubungan dengan Israel, tetapi tidak menyebut negara-negara tersebut.
Abraham Accords merupakan kesepakatan normalisasi hubungan antara Israel dan sejumlah negara.
Ia juga menyambut keputusan Israel dan Maroko pada awal bulan ini untuk saling menempatkan duta besar.
Mengenai Irak, Waltz memuji upaya Perdana Menteri Ali al-Zaidi untuk membawa kelompok bersenjata yang didukung Iran di bawah kendali negara.
Menurut Waltz, melemahnya Iran dapat membuka ruang untuk membatasi pengaruh kelompok-kelompok tersebut di Irak.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
