IHSG Senin Diprediksi Masih Rawan Koreksi, Investor Cermati Arah BI



JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih menghadapi tekanan pada perdagangan Senin, 21 September 2026. Investor akan mencermati perkembangan pasar global, pergerakan rupiah, serta arah kebijakan Bank Indonesia (BI) menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 22-23 September 2026.

Pada perdagangan Jumat, 18 September, IHSG ditutup melemah 0,33 persen atau 21,27 poin ke level 6.441,16. Sepanjang perdagangan, indeks bergerak pada rentang 6.419,49 hingga 6.521,02. Sebanyak 212 saham menguat, 464 saham melemah, dan 287 saham stagnan.

Secara mingguan, IHSG tercatat terkoreksi 1,53 persen. Tekanan jual juga masih terlihat di pasar saham domestik.

Riset MNC Sekuritas yang dikutip IDXChannel memperkirakan IHSG masih rawan menguji area 6.290-6.370. Namun, selama indeks mampu bertahan di atas level 6.370, terdapat peluang penguatan menuju rentang 6.541-6.581. Adapun level support berada di 6.279 dan 6.201, sedangkan resistance di 6.585 dan 6.633.

Dari sisi global, pasar masih mencerna keputusan Federal Reserve (The Fed) yang menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75-4,00 persen pada pertemuan 15-16 September 2026. Kenaikan tersebut merupakan yang pertama sejak 2023 dan meningkatkan perhatian investor terhadap arah kebijakan moneter AS selanjutnya.

Tekanan terhadap aset pasar berkembang juga masih berasal dari kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat dan harga minyak mentah yang berada di atas 100 dolar AS per barel. BRI Danareksa Sekuritas sebelumnya mencatat kombinasi kenaikan yield UST 10 tahun, penguatan dolar AS, dan tingginya harga minyak berpotensi memberikan tekanan terhadap aset emerging market, termasuk Indonesia.

Sementara itu, perhatian investor domestik akan tertuju pada RDG BI yang dijadwalkan berlangsung pada 22-23 September 2026. Berdasarkan jadwal resmi BI, rapat tersebut akan membahas kondisi dan prospek perekonomian serta menetapkan kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran.

Ekonom ASEAN UOB Enrico Tanuwidjaja sebelumnya memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga pada RDG September. Pandangan serupa disampaikan Chief Economist & Head of Research Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto, yang menilai BI masih dapat mengandalkan intervensi pasar valuta asing dan instrumen SRBI sebelum menggunakan suku bunga sebagai instrumen utama untuk merespons tekanan terhadap rupiah.

Di pasar global, Wall Street mengakhiri perdagangan Jumat dengan pergerakan beragam. S&P 500 naik 0,2 persen, Nasdaq Composite menguat 0,4 persen, sedangkan Dow Jones Industrial Average turun 0,2 persen. Harga minyak Brent ditutup sekitar 103,87 dolar AS per barel setelah sempat bergerak mendekati 110 dolar AS pada pekan tersebut.

Kondisi tersebut menjadi salah satu sentimen yang perlu dicermati investor pada awal pekan, terutama terkait dampaknya terhadap rupiah, arus modal asing, dan valuasi saham di pasar domestik.

Dengan kondisi teknikal yang masih menunjukkan tekanan jual, pergerakan IHSG pada Senin diperkirakan akan sangat bergantung pada kemampuan indeks mempertahankan area support serta respons investor terhadap perkembangan global dan ekspektasi kebijakan BI.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *