GERD Banyak Dialami, Terapi P-CAB Hadir dengan Cara Konsumsi Lebih Fleksibel


JAKARTA – Kebiasaan makan tidak teratur, pilihan makanan yang kurang seimbang, hingga perubahan gaya hidup membuat masalah pada saluran cerna semakin sering ditemui.

Salah satu kondisi yang perlu mendapat perhatian adalah Gastroesophageal Reflux Disease atau GERD, ketika asam lambung naik ke kerongkongan dan menimbulkan berbagai keluhan.

Berdasarkan Konsensus Nasional Penatalaksanaan Penyakit GERD Indonesia 2022, prevalensi GERD pada populasi umum di Indonesia diperkirakan mencapai 9,35 persen.

Angka tersebut menunjukkan GERD bukan lagi kondisi yang bisa dianggap sepele, terutama jika gejalanya terus berulang dan tidak mendapatkan penanganan yang tepat.

Risiko GERD juga tidak berhenti pada munculnya rasa tidak nyaman. Data dari rumah sakit rujukan tingkat tersier menunjukkan sekitar 55,4 persen pasien GERD mengalami esofagitis erosif, yaitu kondisi ketika lapisan kerongkongan mengalami kerusakan akibat paparan asam lambung.

Jika dibiarkan, kerusakan tersebut dapat berkembang menjadi masalah yang lebih serius, termasuk meningkatkan risiko kanker esofagus.

Diagnosis dan penanganan sejak dini menjadi bagian penting dalam pengelolaan GERD. Salah satu perkembangan terapi yang kini hadir di Indonesia adalah penggunaan P-CAB atau Potassium-Competitive Acid Blocker, yang diperkenalkan Daewoong Indonesia melalui peluncuran Fexuprazan.

P-CAB memiliki target kerja yang sama dengan Proton Pump Inhibitor (PPI), yakni pompa proton H+/K+-ATPase pada sel parietal lambung yang berperan dalam produksi asam. Namun, kedua kelompok obat tersebut memiliki mekanisme interaksi yang berbeda terhadap pompa tersebut.

“Kalau PPI itu perlu proses aktivasi sebelum dapat menghambat pompa yang aktif, makanya kan dikonsumsinya saat perut kosong atau 30 menit sebelum makan. Sementara P-CAB tidak perlu karena obatnya sudah aktif dan tidak memerlukan proses aktivasi asam seperti PPI,” jelas ketua Pengurus Besar Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia (PB PGI) Prof. Ari Fahrian Syam dalam peluncuran Fexuprazan bersamaan dengan simposium ilmiah Indonesian Digestive Disease Week 2026 di Jakarta yang digagas Daewoong Indonesia, Jumat, 18 September.

Perbedaan mekanisme tersebut membuat P-CAB memiliki cara penggunaan yang lebih fleksibel. Obat ini dapat dikonsumsi sebelum maupun setelah makan karena tidak membutuhkan proses aktivasi seperti PPI. Dalam penggunaannya, P-CAB juga diberikan satu kali sehari. Sementara itu, terapi PPI pada kondisi tertentu dapat membutuhkan frekuensi konsumsi yang lebih dari sekali dalam sehari.

Dari sisi farmakodinamik, kelompok P-CAB juga menunjukkan kemampuan mempertahankan penekanan produksi asam lambung selama 24 jam secara dose-dependent. Hal ini menjadi salah satu aspek yang terus dikaji dalam perkembangan terapi GERD.

Pengalaman penggunaan P-CAB di sejumlah negara juga terus berkembang. Korea Selatan menjadi salah satu negara yang telah menggunakan terapi tersebut secara bertahap dan memiliki data klinis mengenai penggunaannya pada pasien GERD.

“Dalam studi fase tiga yang melibatkan 263 pasien Korea Selatan dengan esofagitis erosif, obat ini telah menunjukkan tingkat penyembuhan berdasarkan pemeriksaan endoskopi sebesar 99,1 persen pada minggu kedelapan, yang menunjukkan efektivitas klinis yang kuat,” imbuh profesor gastroenterologi Asan Medical Center Korea Selatan Prof. Ahn Ji Yong pada kesempatan yang sama.

Menurut para ahli, penanganan GERD menjadi penting karena paparan asam lambung yang berlangsung terus-menerus dapat menyebabkan kerusakan pada kerongkongan. Keluhan yang awalnya mungkin hanya berupa rasa terbakar atau tidak nyaman dapat berkembang menjadi peradangan, luka, hingga penyempitan kerongkongan apabila tidak ditangani.

Di Indonesia sendiri, kelompok obat P-CAB juga telah melalui uji coba yang melibatkan 130 pasien dari tiga rumah sakit di Jakarta oleh Prof. Ari dan tim. Penelitian tersebut menunjukkan P-CAB efektif digunakan pada pasien GERD dengan kondisi berat, termasuk mereka yang mengalami esofagitis erosif atau perlukaan pada kerongkongan.

“Selain menekan lambung, P-CAB juga mampu menurunkan mortalitas lambung. Kualitas hidup pasien juga menjadi lebih baik karena memperbaiki gejala yang timbul, seperti heart burn, regurgitasi, gangguan tidur, sampao nyeri atau rasa tidak nyaman pada bagian atas saluran cerna,” lanjut Prof. Ari.

Kehadiran pilihan terapi seperti P-CAB di Indonesia diharapkan dapat memberikan alternatif penanganan bagi pasien GERD, terutama untuk membantu mengendalikan produksi asam lambung sekaligus mencegah kondisi berkembang menjadi kerusakan kerongkongan yang lebih serius.

Namun, keluhan GERD yang berulang tetap perlu diperiksakan agar pasien mendapatkan diagnosis dan terapi sesuai kondisi masing-masing.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *