JAKARTA – Co-founder AirAsia Tony Fernandes membantah maskapai berbiaya rendah itu meminta bantuan penyelamatan atau bailout dari pemerintah Malaysia. Ia menegaskan AirAsia masih memiliki likuiditas lebih dari 1 miliar ringgit atau sekitar Rp4,35 triliun.
Fernandes mengatakan tidak ada pembicaraan dengan pemerintah Malaysia mengenai bantuan untuk menjaga kelangsungan bisnis AirAsia.
“Jadi kami baik-baik saja. Kami masih bisa bertahan dan semuanya baik-baik saja,” kata Fernandes dalam taklimat media daring, dikutip dari Antara, Jumat, 18 September.
Di tengah sorotan terhadap kondisi keuangan perusahaan, AirAsia saat ini tengah mencari pembiayaan utang sekitar 1 miliar dolar AS. Grup tersebut juga menjajaki penambahan modal saham di Indonesia dan Filipina.
Fernandes mengatakan pembiayaan utang itu bukan untuk mendapatkan modal baru. Langkah tersebut ditujukan untuk memperoleh struktur pendanaan yang lebih baik, termasuk bunga dan persyaratan yang lebih menguntungkan.
Tekanan terhadap AirAsia juga datang dari kenaikan harga avtur. Fernandes mengakui kuartal II menjadi periode sulit setelah harga rata-rata bahan bakar jet mencapai 183 dolar AS per barel.
Angka itu naik 66 persen dibandingkan kuartal sebelumnya.
Menurut Fernandes, tekanan tersebut diperkirakan mereda setelah AirAsia menyesuaikan tarif untuk mengantisipasi kenaikan biaya bahan bakar.
Ia juga menegaskan tidak ada pesawat AirAsia yang berhenti beroperasi akibat gagal bayar.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah muncul laporan media mengenai langkah pemerintah Malaysia yang menghubungi Malaysia Airlines dan Batik Air untuk menyiapkan skenario jika kondisi keuangan AirAsia memburuk.
Skenario itu mencakup kemungkinan pengalihan rute dan penumpang AirAsia kepada maskapai lain.
Fernandes kembali menegaskan tidak ada pembicaraan dengan pemerintah Malaysia mengenai bailout.
Saat ini AirAsia memiliki sekitar 250 pesawat. Sebanyak 10 pesawat lain diperkirakan siap beroperasi pada Oktober, sementara grup tersebut sebelumnya telah mengembalikan 25 pesawat yang lebih tua.
Berdasarkan data per 30 Juni 2026, liabilitas lancar AirAsia mencapai 18,4 miliar ringgit atau sekitar Rp80,2 triliun.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
