Kepala MI5 Inggris Sebut Iran dan Rusia Meningkatkan Kampanye Hibrida


JAKARTA – Kepala intelijen dalam negeri Inggris pada Hari Selasa mengatakan Iran sedang meningkatkan upaya untuk menyasar target-target yang lebih sulit ditembus, seperti instalasi militer di Inggris, sementara Rusia meningkatkan perang hibridanya sebagai bentuk reaksi keras terhadap sekutu-sekutu Ukraina.

Dalam pidato tahunannya mengenai beragam ancaman terhadap Inggris, Direktur Jenderal MI5 Ken McCallum juga menyatakan kekhawatiran terbesar terkait penyalahgunaan kecerdasan buatan (AI) adalah kemampuan teroris untuk mengembangkan senjata biologis atau bahkan menciptakan patogen baru yang belum pernah ada sebelumnya.

McCallum mengatakan, ancaman yang berasal dari negara asing telah meningkat empat kali lipat dalam satu dekade terakhir, yang berarti organisasinya kini mencurahkan lebih banyak sumber daya untuk menangani masalah tersebut dibandingkan pada masa Perang Dingin.

Pada Hari Senin, Perdana Menteri Inggris Andy Burnham menyatakan bahwa Teheran “kemungkinan besar” berada di balik dugaan rencana serangan terhadap RAF Fairford, pangkalan udara yang pernah digunakan oleh pesawat pengebom AS untuk melancarkan serangan ke Iran.

Insiden tersebut memicu peringatan keamanan besar-besaran dan menyebabkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menarik pesawat-pesawat dari pangkalan udara itu.

McCallum mengatakan ia tidak dapat membahas insiden Fairford karena penyelidikan masih berlangsung, namun menyebutkan adanya perubahan besar tahun ini dalam hal “ambisi Iran untuk menyasar target-target yang lebih sulit ditembus, seperti instalasi militer.”

“Insiden RAF Fairford bukanlah satu-satunya kejadian. Ada contoh-contoh lain, tidak hanya di Inggris tetapi juga di seluruh dunia,” ujarnya, melansir Al Arabiya dari Reuters (14/10).

Mengenai Rusia – yang juga membantah keterlibatannya dalam tindakan bermusuhan di Inggris – Kepala MI5 menyatakan negara itu tetap menjadi “agresor nomor satu.”

Ia sependapat dengan pernyataan badan intelijen Eropa lainnya bahwa Rusia menggunakan taktik yang berada tepat di ambang konflik konvensional, dengan merujuk pada percobaan serangan pesawat nirawak (drone) terhadap pesawat kargo di sebuah bandara Jerman dan serangan siber terhadap infrastruktur energi Polandia.

“Bukanlah suatu kebetulan jika agresor Rusia berusaha mengacaukan stabilitas negara-negara Eropa lainnya pada saat kemajuan militer mereka di Ukraina sangat minim namun menelan biaya yang sangat besar dan mengerikan,” katanya.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *