JAKARTA – Eskalasi konflik di Timur Tengah menekan pasar keuangan Indonesia pada perdagangan Selasa. Rupiah melemah terhadap dolar AS, sementara Indeks Harga Saham Gabungan ikut turun saat investor mencermati kenaikan harga minyak dan risiko inflasi global.
Rupiah pada pembukaan perdagangan melemah 26 poin atau 0,15 persen menjadi Rp17.939 per dolar AS dari penutupan sebelumnya Rp17.913.
Pada saat yang sama, IHSG dibuka turun 21,17 poin atau 0,36 persen ke 5.914,98. Indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan melemah 1,80 poin atau 0,30 persen menjadi 589,10.
Analis Doo Financial Lukman Leong mengatakan tekanan terhadap rupiah terutama datang dari meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang kembali mendorong harga minyak mentah.
“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS di tengah eskalasi geopolitik di Timteng yang memicu harga minyak mentah dunia kembali naik,” kata Lukman dikutip dari Antara, Selasa, 13 Oktober.
Kelompok Houthi di Yaman menyatakan meluncurkan serangan rudal balistik ke Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi. Kelompok tersebut juga mengklaim melakukan serangan drone terhadap Pangkalan Udara King Khalid di Khamis Mushait.
Arab Saudi dilaporkan melancarkan 119 serangan ke sejumlah wilayah yang dikuasai Houthi, termasuk Bandara Internasional Sanaa dan kawasan Selat Bab al-Mandab.
Ketegangan tersebut ikut mengangkat harga minyak. Kontrak berjangka West Texas Intermediate ditutup naik 2,06 persen menjadi 93,74 dolar AS per barel, sedangkan Brent naik 1,84 persen menjadi 106,65 dolar AS per barel.
Selain faktor global, arus modal keluar dari pasar saham domestik masih membebani rupiah. Mata uang Asia juga secara umum bergerak melemah pada Selasa pagi.
Lukman memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp17.850 hingga Rp18.000 per dolar AS.
Tekanan serupa terlihat di pasar saham. Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata mengatakan investor juga mencermati risiko inflasi global dan menunggu data ekonomi serta laporan keuangan kuartal III-2026.
Pasar menilai kenaikan inflasi dapat memengaruhi arah suku bunga bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve.
Liza memperkirakan IHSG berpotensi menguji level support 5.839. Support merupakan area harga yang secara teknikal diperkirakan menjadi batas penahan penurunan.
Jika tekanan berlanjut, IHSG berpotensi menuju kisaran 5.805-5.774. Sebaliknya, jika berbalik menguat, indeks berpeluang menguji 5.973-5.995.
Sentimen geopolitik juga datang dari perang Rusia-Ukraina. Serangan terhadap infrastruktur energi Ukraina disebut masih berlanjut, sementara Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan negaranya akan melanjutkan serangan terhadap target Rusia.
Di Timur Tengah, serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz ikut meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran dan potensi gangguan pasokan energi.
Pasar global juga menunggu data inflasi AS September 2026 dan pernyataan sejumlah pejabat The Fed untuk mencari petunjuk arah kebijakan suku bunga.
Di dalam negeri, perhatian turut tertuju pada daya beli masyarakat. Pemerintah didorong merealisasikan insentif fiskal yang lebih terarah bagi kelas menengah di tengah kenaikan biaya hidup.
Pada perdagangan regional Asia pagi ini, Nikkei turun 0,10 persen, Shanghai melemah 0,96 persen, Kospi merosot 6,30 persen, dan Hang Seng turun 0,84 persen. Straits Times menjadi pengecualian dengan kenaikan 0,42 persen.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
