JAKARTA – Nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin, 12 Oktober. Tekanan terhadap mata uang Garuda berasal dari ketidakpastian geopolitik, pergerakan harga minyak dunia, serta kondisi fiskal domestik.
Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah bergerak dalam rentang Rp17.890 hingga Rp17.950 per dolar AS pada perdagangan Senin. Sementara itu, untuk perdagangan sepanjang pekan ini, rupiah diperkirakan bergerak pada kisaran Rp17.780 hingga Rp18.060 per dolar AS.
Proyeksi tersebut mencerminkan masih tingginya volatilitas pasar valuta asing di tengah berbagai sentimen yang memengaruhi pergerakan dolar AS dan mata uang negara berkembang.
Pada penutupan perdagangan Jumat, 9 Oktober, rupiah tercatat menguat tipis ke level Rp17.899 per dolar AS. Penguatan tersebut terjadi setelah mata uang domestik menghadapi tekanan pada awal pekan.
Meski mencatat penguatan mingguan sekitar 0,1 persen selama periode 5–9 Oktober, pergerakan rupiah masih rentan berubah mengikuti perkembangan sentimen global.
Tekanan Geopolitik dan Harga Minyak
Salah satu faktor yang perlu dicermati investor adalah perkembangan konflik di Timur Tengah. Ketidakpastian geopolitik dapat mendorong perubahan aliran modal global dan meningkatkan permintaan terhadap aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS.
Selain itu, kenaikan harga minyak dunia berpotensi menambah tekanan terhadap rupiah. Sebagai negara yang masih mengimpor minyak, Indonesia dapat menghadapi peningkatan kebutuhan devisa apabila harga energi bertahan tinggi.
Kenaikan harga energi juga berisiko mendorong inflasi impor dan memengaruhi prospek perekonomian domestik. Kondisi tersebut menjadi perhatian pelaku pasar dalam memperkirakan arah pergerakan nilai tukar.
Defisit APBN Jadi Perhatian Investor
Dari dalam negeri, kondisi fiskal juga menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pasar. Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga September 2026 dilaporkan mencapai Rp319 triliun atau sekitar 1,24 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Perkembangan tersebut dapat memengaruhi persepsi investor terhadap kondisi fiskal dan kebutuhan pembiayaan pemerintah. Namun, dampaknya terhadap rupiah tetap bergantung pada perkembangan penerimaan negara, strategi pembiayaan, serta respons pasar keuangan.
Di sisi lain, pelaku pasar akan mencermati perkembangan inflasi Amerika Serikat dan arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve. Data ekonomi AS dapat memengaruhi ekspektasi investor terhadap imbal hasil aset dolar dan pergerakan modal internasional.
Dengan berbagai sentimen tersebut, rupiah diperkirakan masih bergerak dinamis pada awal pekan. Investor perlu mencermati perkembangan geopolitik, harga komoditas energi, kondisi fiskal domestik, serta arah kebijakan moneter global untuk mengantisipasi perubahan nilai tukar.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
