JAKARTA – Berjalan atau beraktivitas di bawah sinar matahari belum tentu cukup untuk memenuhi kebutuhan vitamin D. Orang yang lebih banyak berada di dalam ruangan, berkulit gelap, lanjut usia, atau memiliki kondisi tertentu tetap berisiko mengalami kekurangan.
Antara, disitat Selasa, 6 Oktober yang mengutip Channel News Asia, konsultan dermatologi National Skin Centre Dr. Crystal Phuan mengatakan paparan matahari tanpa perlindungan juga tidak boleh berlebihan karena dapat meningkatkan risiko kanker kulit.
“Sangat bijaksana untuk membatasi waktu di bawah sinar matahari tanpa perlindungan matahari karena meningkatnya risiko kanker kulit,” kata Phuan.
Paparan sinar matahari memang membantu tubuh membentuk vitamin D. Namun, sengaja membiarkan kulit terkena radiasi ultraviolet atau UV tanpa perlindungan belum tentu efektif, terutama bagi lansia dan orang dengan kulit lebih gelap.
Phuan mengatakan paparan wajah dan punggung tangan terhadap radiasi UVB dalam kadar tertentu sebanyak tiga kali seminggu dapat menghasilkan vitamin D yang cukup. Batasnya dihitung berdasarkan minimum erythema dose atau MED, yakni jumlah radiasi UV yang mulai membuat kulit memerah.
Pendiri dan Direktur Medis Aquila Medical Center Dr. Stephen Chu menyarankan masyarakat tidak perlu membuat “resep” khusus untuk berjemur. Menurut Chu, yang lebih penting adalah tidak terus-menerus menghindari matahari.
Ia menyarankan keluar sebentar secara teratur pada pertengahan pagi atau sore hari. Paparan perlu berasal dari sinar matahari langsung karena berada di tempat teduh sangat mengurangi paparan UVB.
Tabir surya tetap diperlukan dan perlu digunakan kembali jika banyak berkeringat. Bagi orang berkulit cerah atau memiliki riwayat kanker kulit pribadi maupun keluarga, Chu menyarankan pemenuhan vitamin D melalui suplemen.
Masalahnya, pola hidup perkotaan membuat banyak orang nyaris tidak benar-benar terkena matahari. Seseorang bisa berpindah dari apartemen ke tempat parkir, kantor, pusat perbelanjaan, lalu pulang tanpa banyak terpapar sinar langsung.
Studi pada 2019 terhadap 213 pekerja di dalam ruangan menemukan hampir 33 persen peserta kekurangan vitamin D. Pekerja kantor, bengkel, dan shift malam juga memiliki risiko lebih tinggi meski asupan makanan kaya vitamin D mereka relatif serupa.
Duduk di dekat jendela juga bukan jalan keluar. Konsultan endokrinologi senior Ascensus Health Dr. Sueziani Binte Zainudin mengatakan kaca biasa menghalangi sebagian besar UVB yang dibutuhkan tubuh untuk membentuk vitamin D.
Warna kulit ikut memengaruhi proses tersebut. Melanin yang lebih banyak menyerap radiasi UVB sebelum radiasi itu memicu reaksi kimia untuk menghasilkan vitamin D.
Studi terhadap 197 perempuan di Singapura pada 2013 menemukan kekurangan vitamin D pada 89 persen perempuan Melayu dan 82 persen perempuan India, dibandingkan 56 persen perempuan Tionghoa.
Obesitas juga disebut sebagai salah satu faktor risiko. Vitamin D larut dalam lemak sehingga dapat tersimpan di jaringan tubuh dan lebih sedikit tersedia untuk digunakan tubuh. Salah satu studi mencatat kadar vitamin D pada subjek dengan obesitas 57 persen lebih rendah dibandingkan kelompok yang lebih kurus.
Kebutuhan vitamin D juga penting selama kehamilan karena berperan dalam metabolisme kalsium dan fosfat untuk perkembangan kerangka janin. Studi kecil pada 2024 terhadap 93 perempuan pada trimester pertama menemukan hanya 2,2 persen yang memiliki kadar vitamin D cukup.
Selain dari matahari, vitamin D bisa diperoleh melalui makanan seperti salmon, trout, susu, yogurt, susu nabati yang diperkaya, sereal tertentu, serta beberapa jenis jamur yang diproses dengan sinar ultraviolet.
Dr. Sueziani mengatakan orang dewasa sehat umumnya membutuhkan sekitar 600 IU vitamin D per hari. Kebutuhan orang berusia di atas 70 tahun dapat mencapai sekitar 800 IU, sedangkan orang yang mengalami kekurangan vitamin D bisa memerlukan dosis lebih tinggi dalam jangka tertentu dengan panduan dokter.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
