JAKARTA – Banjir besar yang melanda Thailand, terutama kawasan Bangkok dan wilayah sekitarnya, memaksa Honda menghentikan sementara produksi sepeda motor di salah satu pabriknya. Gangguan tersebut terjadi setelah genangan air di berbagai ruas jalan menyulitkan pekerja mencapai fasilitas produksi Honda di Lat Krabang, Bangkok.
Banjir yang disebut sebagai salah satu yang terparah dalam sejarah Thailand itu telah mengganggu kehidupan warga dan aktivitas bisnis di sejumlah wilayah. Bangkok Post melaporkan sedikitnya 40 orang meninggal akibat banjir tersebut. Lebih dari 150 sekolah juga terendam, sementara sejumlah fasilitas pendidikan lainnya digunakan sebagai tempat evakuasi warga.
Dampak banjir turut dirasakan industri otomotif Thailand. Empat pabrik Toyota dan satu pabrik sepeda motor Honda untuk sementara menghentikan kegiatan produksinya akibat kondisi tersebut. Aktivitas pengiriman kargo Thai Airways juga terganggu, sementara penumpukan bagasi di Bandara Suvarnabhumi Bangkok berdampak terhadap ribuan penumpang.
Pabrik Honda yang terdampak dilaporkan tidak mengalami kerusakan langsung akibat air banjir. Namun, kondisi jalan yang terendam membuat sebagian pekerja kesulitan, bahkan tidak memungkinkan, untuk mencapai tempat kerja.
Pabrik Honda di Lat Krabang memiliki kapasitas produksi hingga 1,67 juta sepeda motor per tahun. Fasilitas tersebut memproduksi sejumlah model yang dipasarkan di Thailand, termasuk Honda Wave 110 dan Honda Scoopy.
Di tengah kondisi tersebut, kawasan Lat Krabang menggunakan pompa air serta perahu pendorong air untuk memindahkan sebagian genangan menuju Kanal Prawet Burirom. Upaya tersebut dilakukan ketika sejumlah kawasan di sekitar Bangkok masih menghadapi dampak banjir.
Pemerintah Thailand telah mengalokasikan sekitar 2 miliar baht untuk penanganan dan bantuan bagi korban banjir. Berdasarkan kurs jual Rp539,60 per baht pada 28 September 2026, nilai tersebut setara sekitar Rp1,08 triliun.
Selain bantuan darurat, pemerintah Thailand juga membahas rencana proyek selama delapan tahun dengan perkiraan biaya sekitar 160 miliar baht atau sekitar Rp86,34 triliun. Proyek tersebut dirancang untuk mengalihkan aliran air banjir dari wilayah utara Thailand agar tidak mengarah ke kawasan yang lebih padat penduduk di bagian hilir.
Banjir tersebut tidak hanya memengaruhi kegiatan industri dan transportasi, tetapi juga aktivitas masyarakat dalam skala luas. Gangguan terhadap akses menuju pabrik Honda menjadi salah satu dampak terhadap sektor manufaktur yang muncul di tengah kondisi banjir di Thailand.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
