JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi bergerak konsolidatif pada perdagangan Rabu, 30 September. Pelaku pasar masih mencermati tekanan eksternal, terutama kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS), pergerakan harga minyak, serta pelemahan nilai tukar rupiah.
Pada perdagangan Selasa, 29 September, IHSG ditutup melemah 26,16 poin atau 0,43 persen ke level 6.121,70. Indeks bergerak dalam rentang 6.013 hingga 6.151 sepanjang perdagangan.
Berdasarkan riset Phintraco Sekuritas, IHSG diperkirakan bergerak dalam fase konsolidasi pada perdagangan Rabu dengan rentang 6.050-6.200. Proyeksi tersebut mempertimbangkan tekanan jual yang mulai berkurang setelah IHSG menyentuh level 6.013, disertai peningkatan volume pembelian menjelang penutupan perdagangan.
Dari sisi eksternal, pasar masih dibayangi kenaikan imbal hasil US Treasury dan harga minyak. Reuters melaporkan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sempat menembus 5,27 persen, level tertinggi dalam 19 tahun. Kondisi tersebut turut meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar AS dan menekan mata uang negara berkembang.
Tekanan eksternal juga tercermin pada pergerakan rupiah. Pada Selasa, rupiah sempat melemah melewati level Rp18.000 per dolar AS untuk pertama kalinya sejak awal Agustus. Reuters mencatat rupiah menyentuh Rp18.010 per dolar AS, di tengah kenaikan imbal hasil obligasi global dan harga minyak.
Kondisi tersebut berpotensi menjadi perhatian investor di pasar saham domestik karena pelemahan rupiah dapat meningkatkan tekanan terhadap saham-saham yang sensitif terhadap pergerakan nilai tukar dan arus modal asing.
Selain faktor global, investor juga masih mencermati dampak penerapan ketentuan baru batas harga minimum saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Aturan tersebut menurunkan batas harga minimum saham dari Rp50 menjadi Rp1 dan mulai berlaku pada Senin, 28 September 2026. Perubahan tersebut memicu penyesuaian harga pada sejumlah saham.
Di tengah tekanan tersebut, sektor perbankan menjadi salah satu penopang pergerakan indeks pada perdagangan Selasa. Reuters mencatat saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dan Bank Mandiri (BMRI) sempat menguat lebih dari 1 persen sehingga membantu mengurangi tekanan terhadap IHSG.
Dari dalam negeri, investor juga mencermati perkembangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2027 setelah DPR bersama pemerintah menyepakati Rancangan APBN 2027 menjadi undang-undang pada Selasa.
Dengan berbagai sentimen tersebut, pergerakan IHSG pada perdagangan Rabu diperkirakan masih berlangsung selektif. Area 6.050 menjadi level support yang perlu diperhatikan, sementara 6.200 menjadi area resistance berdasarkan proyeksi Phintraco Sekuritas.
Investor juga akan mencermati perkembangan bursa regional, pergerakan rupiah, harga komoditas, serta imbal hasil US Treasury sebagai katalis pergerakan IHSG pada perdagangan akhir September 2026.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
