JAKARTA – Batik dari Derawan dan Maratua, Kalimantan Timur, menjadi perhatian dalam Pemilihan Putra Putri Batik Nusantara (PPBN) 2026. Kementerian Kebudayaan ingin memperluas pemasaran batik daerah, termasuk ke mancanegara, sekaligus mendorong generasi muda mengembangkan motif dan desain yang sesuai dengan perkembangan mode.
Sekretaris Jenderal Kementerian Kebudayaan Bambang Wibawarta menyampaikan hal itu dalam malam final PPBN 2026 di Trans Studio Cibubur, Depok, Minggu, 27 September. Memasuki penyelenggaraan ke-11, ajang tersebut mengangkat batik Derawan dan Maratua sebagai tema utama.
Menurut Bambang, batik memiliki peluang untuk berkembang di kalangan generasi Z. Penggunaannya tidak lagi terbatas pada acara resmi, tetapi juga dapat dipadukan dengan busana modern untuk kegiatan sehari-hari.
Pengembangan desain menjadi salah satu perhatian Kementerian Kebudayaan. Bambang mendorong para perajin dan pelaku usaha menciptakan motif baru, memperluas pemasaran, serta membuka peluang bagi batik Indonesia untuk menjangkau konsumen internasional.
“Tentu di masa depan banyak juga terobosan baru yang direncanakan. Akan banyak juga kolaborasi-kolaborasi, akan ada kebaruan-kebaruan bagaimana membuat motif baru, bagaimana memasarkannya, bagaimana agar batik lebih lagi disukai oleh generasi muda hingga bisa digemari lagi di mancanegara,” kata Bambang.
Pemilihan Derawan dan Maratua sebagai tema PPBN tahun ini juga bertujuan memperkenalkan kekayaan batik dari daerah yang belum banyak mendapat perhatian. Menurut Bambang, pulau-pulau terluar Indonesia memiliki potensi budaya yang dapat dikembangkan melalui produk wastra atau kain tradisional.
“Tema ini juga lebih ke batik daerah, seperti batik Derawan dan Maratua. Saya rasa ini luar biasa, karena di pulau-pulau terluar sekalipun, kita juga punya potensi budaya,” ujarnya.
Namun, memperkenalkan motif daerah saja belum cukup untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Bambang menekankan pentingnya riset pasar dan pemanfaatan sumber daya setempat sebelum produk dikembangkan dan dipasarkan.
Riset tersebut dapat dimulai dengan menggali informasi dari masyarakat setempat. Hasilnya kemudian digunakan untuk merancang produk, menentukan cara memperkenalkannya kepada konsumen, hingga menyiapkan produksi dan promosi.
Pendekatan ini diharapkan membantu batik daerah menjangkau pembeli di dalam negeri maupun mancanegara tanpa melepaskan identitas budaya asalnya.
Bambang juga menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam pengembangan batik. Menurutnya, kesinambungan budaya memerlukan ruang bagi generasi berikutnya untuk menghasilkan gagasan, menciptakan desain, dan mengembangkan peluang ekonomi dari kekayaan budaya daerah.
PPBN 2026 merupakan ajang yang digagas Pencinta Batik Nusantara bersama Ikatan Alumni Putra Putri Batik Nusantara dan JEEVES Indonesia. Kegiatan tersebut bertujuan memperkenalkan kekayaan batik, identitas budaya, serta potensi berbagai daerah kepada generasi muda.
Malam final tahun ini turut dihadiri Ketua Umum Ikatan Pencinta Batik Nusantara Ayu Dyah Pasha, Ketua Harian Bayu Adhitama, serta sejumlah tokoh industri kreatif dan seni yang menjadi dewan juri, antara lain Maudy Koesnaedi, Jacky Mussry, dan Ufa Sofura.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
