DEPOK – Di balik rasa manis dan tampilannya yang menarik, segelas milk tea kekinian bisa mengandung gula hingga mendekati batas konsumsi harian. Pakar Universitas Indonesia (UI) mengingatkan kebiasaan mengonsumsi minuman tinggi gula berisiko memicu obesitas, diabetes tipe 2, hingga gangguan jantung.
Pakar Fakultas Ilmu Keperawatan UI, Dr. Widyatuti, mengatakan satu porsi artisan milk tea diperkirakan mengandung gula setara 70 hingga 100 persen dari batas konsumsi harian yang dianjurkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes).
Kemenkes merekomendasikan konsumsi gula maksimal 50 gram atau setara empat sendok makan per orang setiap hari. Artinya, satu gelas teh susu kekinian berpotensi menghabiskan hampir seluruh jatah gula harian, belum termasuk gula dari makanan dan minuman lainnya.
Widyatuti menjelaskan kombinasi gula tinggi, krimer olahan, pemanis tambahan, dan teh pekat dalam minuman tersebut dapat menimbulkan masalah kesehatan jika dikonsumsi berlebihan.
“Dampak negatif tersebut meliputi obesitas, resistensi insulin yang berujung pada diabetes melitus tipe 2, hingga gangguan sistem kardiovaskular,” kata Widyatuti di Depok, seperti dikutip dari Antara, Jumat, 25 September.
Peringatan itu disampaikan ketika Indonesia masih menghadapi tingginya jumlah penderita diabetes. Berdasarkan data International Diabetes Federation (IDF) dalam Atlas Diabetes edisi ke-11, sebanyak 20,4 juta penduduk Indonesia tercatat hidup dengan diabetes.
Indonesia berada di peringkat kelima dunia berdasarkan jumlah penderita diabetes, setelah Pakistan, Amerika Serikat, India, dan China.
Selain gula, kandungan kafein dari teh pekat juga perlu diperhatikan. Konsumsi berlebihan dapat memicu kecemasan, jantung berdebar, gangguan tidur, dan masalah pencernaan.
Risiko tersebut terutama perlu diwaspadai oleh orang yang sensitif terhadap kafein, anak-anak, dan ibu hamil.
Widyatuti menilai popularitas artisan milk tea kerap membuat konsumen lebih memperhatikan rasa, aroma, dan tampilan daripada kandungan gulanya.
“Popularitas artisan milk tea sering kali membuat masyarakat terbuai oleh cita rasa, aroma khas, dan estetika visualnya. Istilah ‘artisan’ kerap disalahartikan sebagai produk yang pasti alami atau jelas sehatnya,” ujarnya.
Lantas, apakah minuman kekinian harus dihindari sepenuhnya?
Widyatuti menyarankan masyarakat lebih cermat menentukan tingkat kemanisan saat membeli minuman. Pilihan less sugar 30 persen atau no sugar dapat membantu mengurangi asupan gula tambahan.
Ia juga menyarankan penggunaan krimer bubuk olahan dan krimer kental manis diganti dengan susu rendah lemak atau susu nabati.
Tambahan seperti boba, cheese foam, dan puding yang mengandung kalori tinggi sebaiknya dibatasi.
Menurut Widyatuti, minuman kekinian seperti artisan milk tea lebih baik dinikmati sesekali, bukan menjadi kebiasaan setiap hari. Untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh, air putih tetap menjadi pilihan utama.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
