Kenali Tanda Gegar Otak saat Cedera Olahraga, Jangan Abaikan Gejala Setelah Benturan


JAKARTA – Cedera kepala menjadi salah satu kondisi yang perlu mendapat perhatian saat seseorang mengalami benturan ketika berolahraga.

Benturan tidak selalu langsung menunjukkan gangguan serius. Namun, sejumlah gejala yang muncul setelah kejadian dapat menjadi tanda adanya cedera pada otak dan perlu mendapat penilaian medis.

Pada olahraga dengan kontak fisik misalnya, cedera dapat terjadi akibat benturan pada kepala maupun leher. Mekanisme benturan juga menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan karena gerakan kepala yang tiba-tiba, termasuk gerakan ke arah atas dan belakang maupun cedera dengan gerakan berputar, dapat memengaruhi otak di dalam tengkorak.

Di saat terjadi benturan, penilaian awal perlu melihat mekanisme cedera sekaligus ada atau tidaknya tanda bahaya atau red flag. Cedera dengan gerakan berputar (rotational injury) juga perlu diperhatikan karena otak dapat mengalami pergerakan di dalam rongga tengkorak.

“Mekanisme tersebut dapat menyebabkan cedera pada bagian otak yang mengalami benturan maupun pada sisi yang berlawanan. Kondisi ini dikenal dengan mekanisme coup-countercoup dan pada kasus tertentu dapat menyebabkan contusio cerebri atau memar pada jaringan otak,” ungkap dr. Ferrdy Pratama Wijaya, SpN, MMRS, Dipl of Pain (Neurologist) dalam acara Concussion Awareness Seminar & Talk Show sebagai National Kick-Off dari APPI Concussion Awareness Campaign bersama Eka Hospital di Jakarta, Rabu, 23 September.

Pada kasus ini, pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui kondisi otak secara lebih jelas. Salah satu pemeriksaan yang dapat digunakan dalam evaluasi cedera otak adalah MRI, sesuai dengan pertimbangan dan penilaian dokter.

Selain mekanisme benturan, gejala yang dirasakan setelah cedera juga menjadi bagian penting dalam penilaian. Gangguan penglihatan, misalnya, dapat menjadi salah satu keluhan yang perlu diperhatikan. Pasien dapat ditanyakan apakah pandangannya menjadi kabur atau melihat objek menjadi dua (double vision).

Jika pasien mengeluhkan penglihatan ganda, kondisi tersebut perlu dilanjutkan dengan penilaian medis untuk melihat kemungkinan gangguan neurologis yang menyertainya.

Gejala lain yang dapat muncul setelah cedera kepala antara lain pusing dan muntah. Kejang juga dapat menjadi tanda yang perlu diwaspadai, meskipun menurut dr. Ferrdy, kejang tidak selalu langsung terjadi setelah cedera dan lebih mungkin berkaitan dengan kondisi atau lesi otak yang besar.

Tanda lain yang perlu mendapat perhatian adalah kecurigaan adanya fraktur atau patah tulang tengkorak. Kondisi tersebut membutuhkan evaluasi medis karena dapat berkaitan dengan cedera pada struktur di dalam kepala.

“Perubahan kesadaran juga menjadi salah satu parameter penting. Salah satunya adalah kondisi bingung atau amnesia yang menetap setelah benturan,” ungkapnya.

Penilaian tingkat kesadaran dapat menggunakan Glasgow Coma Scale (GCS). GCS merupakan sistem penilaian untuk mengukur tingkat kesadaran seseorang berdasarkan tiga respons, yakni respons membuka mata, respons verbal, dan respons motorik.

Skor totalnya berada pada rentang 3 hingga 15, dengan skor yang lebih rendah menunjukkan tingkat gangguan kesadaran yang lebih berat. Pada kasuscedera kepala, GCS kurang dari 15 menjadi salah satu tanda yang perlu mendapat perhatian lebih lanjut.

Demikian pula apabila nyeri kepala semakin berat atau tidak kunjung membaik setelah benturan.

“Seseorang yang mengalami benturan saat berolahraga sebaiknya tidak langsung kembali beraktivitas hanya karena masih mampu berdiri atau berbicara. Mekanisme cedera, perubahan kesadaran, keluhan neurologis, serta perkembangan gejala perlu dinilai untuk menentukan langkah berikutnya,” papar dokter Ferrdy.

Pentingnya Observasi Setelah Cedera

Selain mengenali tanda bahaya, pemantauan setelah cedera juga menjadi bagian penting dalam penanganan dugaan gegar otak. Gejala dapat berkembang atau menjadi lebih jelas setelah beberapa waktu sehingga kondisi seseorang perlu diamati, terutama pada periode awal setelah kejadian.

dr. Donny Kurniawan, Sp.KO (Head Medical Division APPI) menjelaskan bahwa observasi diperlukan ketika seseorang dicurigai mengalami gegar otak, terlebih pada atlet yang memiliki tuntutan aktivitas fisik tinggi.

Pada dasarnya kita membutuhkan observasi 24 jam ketika kita suspect. Periode waktu ini menjadi bagian penting dalam melihat perkembangan kondisi setelah cedera. Dalam waktu tersebut, perubahan gejala maupun munculnya tanda-tanda baru dapat dipantau untuk menentukan apakah diperlukan pemeriksaan atau penanganan lebih lanjut.

“Makanya kan observasi pertama tuh paling bagus adalah 24 jam pertama. Orang kecelakaan aja kan di rumah sakit observasi 24 jam walaupun cedera kepala ringan, idealnya seperti itu,” ujar dokter Donny.

Pada atlet, proses kembali berolahraga juga tidak dilakukan secara langsung setelah dugaan gegar otak. Aktivitas fisik perlu dilakukan secara bertahap dan disertai evaluasi, terutama karena atlet akan kembali menghadapi aktivitas dengan intensitas tinggi serta kemungkinan terjadinya benturan kembali.

Setelah mengalami benturan kepala saat berolahraga, munculnya gejala seperti gangguan penglihatan, pusing, muntah, kebingungan atau amnesia yang menetap, penurunan kesadaran, kejang, dugaan patah tulang tengkorak, maupun sakit kepala yang semakin berat perlu mendapat perhatian.

Penilaian tenaga medis diperlukan untuk menentukan apakah kondisi tersebut merupakan gegar otak atau cedera kepala lain yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.

Seseorang yang dicurigai mengalami gegar otak sebaiknya tidak terburu-buru kembali ke lapangan hanya karena gejalanya tampak membaik. Pemantauan dan evaluasi bertahap diperlukan sebelum aktivitas olahraga dilanjutkan.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *