Pontianak, Fokus Berita — Bagi sebagian warga Pontianak, kabut asap dan kekeringan bukan sekadar berita. Keduanya hadir dalam aktivitas sehari-hari: udara yang harus dihirup saat bekerja di jalan hingga air bersih yang harus dicari untuk kebutuhan rumah tangga.
Situasi itu mendorong Kantor Imigrasi Kelas I TPI Pontianak turun langsung ke tengah masyarakat melalui gerakan Imigrasi Peduli Bencana. Kepedulian tersebut diwujudkan dalam dua aksi di tengah kondisi yang berbeda, tetapi sama-sama menyentuh kebutuhan dasar warga.
Saat kabut asap menyelimuti Pontianak dan sekitarnya, jajaran Imigrasi Pontianak membagikan 1.700 masker kepada pengendara dan masyarakat di kawasan Bundaran Tugu Digulis. Paket sederhana berupa air mineral, makanan ringan, dan permen juga diberikan kepada warga yang tetap harus beraktivitas di luar rumah.
Di tengah kualitas udara yang memburuk, mereka yang bekerja di jalan tidak memiliki banyak pilihan. Pengemudi ojek online, kurir, pedagang kaki lima, hingga pekerja harian tetap harus bergerak mencari penghasilan. Bagi mereka, masker mungkin terlihat sederhana, tetapi menjadi perlindungan yang dibutuhkan saat itu.
Persoalan lain muncul ketika hujan tak kunjung turun. Pada 18 September 2026, Imigrasi Pontianak kembali hadir di tengah warga dengan menyalurkan bantuan air bersih di Jalan Imam Bonjol, Gang Bansir 2, Pontianak.
Warga antusias mendatangi lokasi dengan membawa galon dan wadah air. Para pegawai bersama jajaran struktural Imigrasi Pontianak ikut turun tangan, mengisi hingga mengangkat galon yang telah penuh untuk dibawa pulang warga.
Erna, Ketua RT di Gang Bansir 2, mengatakan kondisi kekeringan membuat kebutuhan air bersih semakin terasa. Warga, kata dia, harus mengeluarkan biaya sekitar Rp9.000 hingga Rp15.000 untuk satu galon air isi ulang. Di saat yang sama, warga juga mengeluhkan air PDAM yang terasa asin.
Dua aksi tersebut menjadi bagian dari upaya Imigrasi Pontianak untuk hadir ketika masyarakat menghadapi kondisi darurat yang berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari. Bukan hanya melalui layanan keimigrasian, tetapi juga dengan melihat persoalan yang ada di lingkungan sekitar dan meresponsnya secara langsung.
Kepala Kantor Imigrasi Kelas I TPI Pontianak, Sam Fernando, mengatakan pemerintah harus hadir ketika masyarakat membutuhkan dukungan.
> “Imigrasi untuk rakyat bukan hanya tentang pelayanan keimigrasian. Ketika masyarakat menghadapi kondisi sulit, kami ingin hadir dan memberikan manfaat yang bisa dirasakan secara langsung,” ujar Sam Fernando.
Dari 1.700 masker di tengah kepungan asap hingga air bersih di tengah musim kering, Imigrasi Peduli Bencana menjadi upaya sederhana untuk memastikan kehadiran pemerintah tetap dirasakan masyarakat. Sebab dalam situasi sulit, kepedulian tidak selalu harus datang dalam bentuk besar—yang penting hadir, tepat sasaran, dan dibutuhkan. (*/Amad)
