INNOBRIDGE Diluncurkan, BRIN-IPB Dorong Riset Jadi Produk Siap Pasar


BOGOR — Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Arif Satria menegaskan kolaborasi riset dengan IPB University melalui INNOBRIDGE harus menghasilkan produk yang berdampak bagi perekonomian dan menjawab kebutuhan strategis Indonesia.

Arif mengatakan kerja sama antara lembaga riset dan perguruan tinggi harus diarahkan pada riset terapan yang dapat dimanfaatkan masyarakat, bukan hanya menghasilkan publikasi ilmiah.

“BRIN itu sendiri perlu bergandengan dengan perguruan tinggi dalam menjalankan riset yang berdampak. Riset yang memang merupakan prioritas strategis nasional,” kata Arif saat peluncuran INNOBRIDGE atau Innovation Network of BRIN–IPB for Research, Development, and Global Excellence di Gedung Inkubator Bisnis Halal, Science Techno Park (STP) IPB Taman Kencana, Bogor, Kamis 17 September.

Menurut Arif, kolaborasi BRIN dan IPB University akan difokuskan pada sektor pangan, antara lain peternakan, perikanan, bawang putih, pakan ternak, serta industri halal.

BRIN, kata dia, akan menyiapkan dukungan pendanaan untuk riset yang memiliki target jelas dan dapat menghasilkan dampak ekonomi dalam waktu yang terukur.

“Risetnya ini memang kita lakukan riset yang bisa memiliki dampak bagi ekonomi nasional dan dampaknya itu dalam waktu yang tidak terlalu lama. Jadi ini bukan riset dasar, ini adalah riset terapan yang memang diarahkan pada dampak ekonomi,” ujarnya.

Salah satu target konkret yang didorong melalui kolaborasi tersebut adalah pengembangan varietas bawang putih. Arif mengatakan kerja sama BRIN dan IPB University untuk komoditas tersebut telah berjalan dan ditargetkan menghasilkan varietas baru pada 2027.

“Untuk bawang putih sudah ada kerja sama antara BRIN dengan IPB. Kita harapkan 2027 ini sudah bisa kita luncurkan varian baru untuk bawang putih,” katanya.

Selain hortikultura, riset diarahkan pada penguatan produksi protein nasional. Arif menyebut pengembangan sapi, ayam, unggas, dan pakan sebagai bagian dari upaya meningkatkan ketersediaan protein sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.

“Ke depan juga ingin ada sapi baru, ingin ada ayam baru yang bisa meningkatkan ketersediaan protein nasional. Protein ini kan satu hal yang harus terus kita dorong untuk bisa dipenuhi,” ujar Arif.

Ia mengatakan agenda tersebut sejalan dengan kebutuhan untuk memperkuat substitusi impor. Selain protein hewani, komoditas seperti bawang putih dan kedelai juga menjadi perhatian karena Indonesia masih bergantung pada produk impor untuk memenuhi kebutuhan sejumlah komoditas tersebut.

“Pak Presiden concern pada bagaimana substitusi impor ini dijalankan, satu soal protein, kemudian termasuk barang-barang hortikultur, bawang putih, kemudian kedelai yang saat ini juga masih impor,” katanya.

Arif menekankan keberhasilan riset tidak cukup diukur dari jumlah publikasi. Hasil penelitian harus dapat dikembangkan menjadi produk yang diterima pasar dan memberikan efek lanjutan terhadap perekonomian.

“Targetnya bukan sekadar publikasi, tapi targetnya adalah produk baru yang kemudian bisa masuk pasar, bisa diterima oleh pasar, bisa menumbuhkan wirausaha-wirausaha baru, perusahaan-perusahaan baru, dan kemudian juga bisa mencipta lapangan kerja,” tegasnya.

Karena itu, setiap riset yang dikembangkan melalui INNOBRIDGE akan diarahkan memiliki target waktu yang jelas. Lama penelitian akan disesuaikan dengan karakter produk, mulai dari riset yang dapat diselesaikan dalam satu tahun hingga penelitian yang membutuhkan waktu lebih panjang, seperti vaksin dan pengembangan varietas unggul.

“Jadi nanti dengan adanya platform ini, maka IPB dan BRIN akan bisa mengusulkan beberapa produk yang memang siap untuk bisa dihasilkan dalam waktu tertentu. Ada tenggat waktunya,” ujar Arif.

Sementara itu, Rektor IPB University Dr. Alim Setiawan Slamet mengatakan INNOBRIDGE menjadi penguatan atas kerja sama IPB University dan BRIN yang telah berlangsung melalui berbagai skema riset.

Menurut Alim, kolaborasi tersebut kini diarahkan pada kegiatan yang lebih konkret, termasuk pengembangan pusat kolaborasi riset.

“Sebenarnya Pak Kepala BRIN menugaskan ada satu PKR, pusat kolaborasi riset. Tapi hari ini kita inisiasi dulu dengan tiga pusat kolaborasi riset,” kata Alim.

Tiga program tersebut meliputi Collaborative Research Center for Next Generation Feed Additives for Sustainable Livestock Systems, CLARITY: Climate Livestock Action for Reducing Emissions in the Tropical Systems, serta PKR bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) halal.

Ketiga program tersebut diarahkan pada pengembangan pakan ternak berkelanjutan, pengurangan emisi dalam sistem peternakan tropis, serta penguatan riset di bidang halal.

Melalui INNOBRIDGE, kolaborasi IPB University dan BRIN juga mencakup sejumlah bidang strategis, seperti padi, bawang putih, kelapa sawit, kedelai, pertanian cerdas, unggas dan pakan hewan, kesehatan, pangan fungsional, produk biomedis, bioenergi, karbon dan iklim, serta perikanan dan kelautan.

Alim mengatakan pengalaman kerja sama kedua institusi menjadi modal untuk menghasilkan program riset yang lebih konkret.

“Kita sudah punya pengalaman, kerja sama ini tidak hanya sekarang. Dan sekarang kita akan ada hal yang konkret yang bisa dilakukan, termasuk juga tadi menyusun proposal risetnya,” ujarnya.

INNOBRIDGE diharapkan menjadi platform yang menghubungkan kepakaran akademik IPB University dengan kapasitas riset BRIN, sehingga hasil penelitian dapat bergerak dari tahap pengembangan menuju produk dan inovasi yang dapat dimanfaatkan masyarakat.

Dengan pendekatan tersebut, kolaborasi riset ditargetkan tidak hanya memperkuat ekosistem penelitian, tetapi juga mendukung kemandirian pangan, substitusi impor, pengembangan usaha berbasis inovasi, dan penciptaan lapangan kerja.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *