Meiline Tenardi dan KPPB Ajak Perempuan Jaga Kesehatan Mental Lewat Workshop “When Life Feels Empty”


JAKARTA – Yayasan Komunitas Perempuan Peduli dan Berbagi (KPPB) yang didirikan Meiline Tenardi menggelar workshop eksklusif bertajuk “When Life Feels Empty: Finding Meaning, Connection & Yourself Again” sebagai ruang refleksi bagi perempuan untuk kembali menemukan makna hidup, membangun koneksi dengan diri sendiri, serta meningkatkan kesehatan mental dan kesejahteraan psikologis.

Kegiatan yang berlangsung pada Jumat (24/7) itu diikuti sekitar 150 peserta dari berbagai kalangan, mulai dari profesional, pengusaha, komunitas, tokoh masyarakat, hingga masyarakat umum.

Workshop tersebut hadir sebagai respons terhadap semakin kompleksnya tantangan yang dihadapi perempuan modern, yang kerap harus menjalankan berbagai peran sekaligus sebagai profesional, ibu, istri, anak, pemimpin, maupun anggota masyarakat.

Perempuan Perlu Ruang untuk Merawat Diri

Founder KPPB, Meiline Tenardi, mengatakan tema workshop dipilih karena banyak perempuan yang sibuk menjalankan berbagai tanggung jawab hingga melupakan kebutuhan dirinya sendiri.

“Kita semua tahu bahwa tuntutan hidup saat ini semakin kompleks. Banyak perempuan menjalankan berbagai peran sekaligus. Menjalani semua peran tersebut membutuhkan energi yang besar, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara mental dan emosional,” ujar Meiline.

Menurutnya, kesibukan maupun berbagai pencapaian tidak selalu membuat seseorang merasa utuh.

“Kesibukan bisa mengisi kalender kita, tetapi belum tentu mengisi hati dan jiwa kita. Kita sering sibuk merawat hubungan dengan pasangan, anak, keluarga, sahabat, maupun rekan kerja. Namun ada satu hubungan yang juga perlu terus dirawat, yaitu hubungan dengan diri sendiri,” katanya.

Meiline menegaskan workshop tersebut bukan karena setiap perempuan dianggap sedang mengalami masalah atau rasa hampa.

“Kami menghadirkan ruang yang aman untuk berhenti sejenak, berefleksi, mengisi kembali energi, serta menemukan kembali makna, koneksi, dan diri sendiri. Kami percaya bahwa merawat kesehatan mental merupakan bagian penting dari kualitas hidup,” tuturnya.

Founder KPPB, Meiline Tenardi. (Dok VOI)
Founder KPPB, Meiline Tenardi. (Dok VOI)

Memahami Rasa Hampa dari Sudut Pandang Psikologi

Workshop menghadirkan Ratih Ibrahim, Senior Clinical Psychologist sekaligus Founder & CEO Personal Growth; Ineke Machdi, Breathwork Facilitator; serta Antaresa Hendita, Counselling Practitioner. Seluruh sesi dipandu moderator Andini W. Effendi.

Dalam paparannya, Ratih Ibrahim menjelaskan bahwa kesepian (loneliness) dan rasa hampa (emptiness) merupakan dua kondisi psikologis yang berbeda, meski sering kali saling berkaitan.

“Seseorang bisa memiliki banyak teman, keluarga yang baik, bahkan kehidupan sosial yang aktif, tetapi tetap merasa kosong. Empty feeling sering muncul ketika seseorang kehilangan koneksi dengan dirinya sendiri, kehilangan makna, arah, atau tujuan hidup,” jelas Ratih.

Ia juga mengajak peserta lebih peka terhadap sinyal yang diberikan tubuh.

“Tubuh sering kali berbicara lebih dulu daripada pikiran. Napas menjadi pendek, bahu terasa tegang, sulit rileks, atau mudah lelah. Mengenali sinyal-sinyal tersebut merupakan langkah awal untuk memahami kondisi diri sendiri,” katanya.

Breathwork Bantu Menenangkan Pikiran

Melengkapi sesi psikologi, Ineke Machdi memperkenalkan teknik breathwork sebagai cara sederhana untuk membantu seseorang kembali hadir bagi dirinya sendiri.

Menurutnya, banyak orang hidup dalam ritme yang terlalu cepat sehingga melupakan kebutuhan tubuh untuk beristirahat.

“Napas selalu bersama kita, tetapi justru sering kita abaikan. Ketika kita kembali bernapas dengan sadar, tubuh mulai merasa aman, pikiran menjadi lebih tenang, dan kita memberi kesempatan bagi diri sendiri untuk benar-benar hadir pada saat ini,” ujar Ineke.

Melalui praktik breathwork, peserta diajak merasakan bagaimana latihan pernapasan dapat membantu menenangkan sistem saraf, meningkatkan kesadaran diri, serta mendukung proses pemulihan mental dan emosional.

Self-Care Bukan Bentuk Keegoisan

Sementara itu, Antaresa Hendita mengingatkan pentingnya membangun hubungan yang sehat dengan diri sendiri di tengah berbagai tuntutan kehidupan.

Ia menilai banyak perempuan terbiasa memenuhi kebutuhan orang lain, tetapi sering mengabaikan kebutuhan pribadinya.

“Merawat diri bukan berarti egois. Ketika kita mengenal diri sendiri, memahami batas kemampuan, dan memberi ruang bagi kebutuhan kita, maka kita memiliki kapasitas yang lebih besar untuk hadir bagi keluarga, pekerjaan, maupun orang-orang yang kita cintai,” ujarnya.

Menurut Antaresa, perubahan besar justru dapat dimulai dari langkah sederhana.

“Kadang yang kita butuhkan hanyalah keberanian untuk berhenti sejenak, mendengarkan diri sendiri, dan bertanya dengan jujur, ‘Apa yang sebenarnya saya butuhkan hari ini?'” katanya.

Dorong Kesadaran Pentingnya Kesehatan Mental Perempuan

Selain menghadirkan diskusi interaktif dan praktik breathwork, workshop juga dilengkapi layanan pemeriksaan kesehatan serta sesi relaksasi sebagai bagian dari pendekatan kesehatan yang holistik.

Kegiatan ini didukung oleh Mobiliari sebagai mitra kolaborasi utama, bersama Personal Growth, Breathwork Indonesia, School for Moms, sejumlah media partner, supporting partner, serta tim KPPB.

Melalui penyelenggaraan workshop “When Life Feels Empty: Finding Meaning, Connection & Yourself Again”, KPPB berharap semakin banyak perempuan menyadari bahwa menjaga kesehatan mental dan kesejahteraan psikologis merupakan bagian penting dari kehidupan yang sehat.

“Kami berharap setiap peserta pulang bukan hanya membawa ilmu, tetapi juga perspektif baru, energi baru, dan keberanian untuk terus merawat hubungan yang paling penting dalam hidup, yaitu hubungan dengan dirinya sendiri,” tutup Meiline.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *