JAKARTA — Asisten Strategi (Asstra) Panglima TNI, Marsekal Muda (Marsda) TNI Dr. Budhi Achmadi, menilai keberadaan Missile City Iran memberi pelajaran penting bagi Indonesia dalam membangun kemandirian industri pertahanan.
Menurut Budhi, jaringan fasilitas rudal bawah tanah Iran itu bukan hanya simbol kekuatan militer. Lebih dari itu, Missile City menunjukkan bagaimana sebuah negara membangun daya tahan melalui penguasaan teknologi, industri pertahanan, dan sumber daya manusia.
“Missile City sesungguhnya bukan hanya simbol kekuatan militer Iran, melainkan representasi dari perjalanan panjang sebuah bangsa dalam membangun kapasitas nasional,” kata Budhi dalam tulisannya yang diterima Senin, 1 Juni.
Ia menjelaskan, Iran membangun kemampuan itu di tengah tekanan panjang sejak akhir 1970-an. Negara tersebut menghadapi embargo, pembatasan teknologi, dan sanksi ekonomi. Kondisi itu membuat Iran tidak bisa terus bergantung pada pasokan senjata dari luar negeri.
Budhi menyebut situasi seperti itu dikenal sebagai enforced autonomy. Artinya, kemandirian yang lahir karena tekanan. Negara dipaksa membangun kemampuan sendiri karena akses dari luar makin terbatas.
Dalam kasus Iran, proses itu berjalan bertahap. Dimulai dari pemeliharaan dan modifikasi alutsista yang sudah ada. Lalu berlanjut ke produksi komponen, penguasaan manufaktur, pembangunan pusat riset, hingga pengembangan sistem persenjataan sendiri.
Budhi menilai pengalaman itu relevan bagi Indonesia. Sebagai negara besar dengan wilayah luas dan posisi geopolitik strategis, Indonesia membutuhkan kemampuan pertahanan yang tidak sepenuhnya bergantung pada negara lain.
Kemandirian pertahanan, bukan sekadar bisa membuat alutsista. Yang tidak kalah penting adalah kemampuan menjaga operasi, menyediakan suku cadang, menguasai teknologi kritis, dan mengurangi risiko jika terjadi gejolak global.
“Pengembangan teknologi nasional tidak perlu menunggu situasi krisis,” ujarnya.
Jenderal bintang dua ini mengatakan Indonesia masih punya ruang untuk membangun kemandirian secara terencana. Caranya melalui investasi riset, inovasi, pendidikan, perguruan tinggi, lembaga penelitian, industri manufaktur, dan kebijakan negara yang konsisten.
Ia menekankan, industri pertahanan tidak bisa tumbuh hanya dengan membeli persenjataan dari luar negeri. Pembelian alutsista memang bisa memenuhi kebutuhan cepat. Namun, tanpa alih teknologi dan ekosistem industri, ketergantungan akan terus berulang.
Budhi juga menyoroti perubahan karakter perang modern. Menurutnya, efektivitas militer kini tidak selalu ditentukan oleh senjata mahal. Drone, rudal, sistem presisi, teknologi siber, kecerdasan buatan, dan sistem otonom makin menentukan.
Pengalaman Iran, menunjukkan sistem yang relatif lebih murah dapat memberi dampak strategis besar jika dikembangkan secara konsisten.
Bagi Indonesia, sektor-sektor itu bisa menjadi peluang. Pengembangan drone, sistem penginderaan, teknologi siber, dan kecerdasan buatan tidak hanya memperkuat pertahanan, tetapi juga mendorong industri teknologi nasional.
Namun, Budhi mengingatkan fondasi utama tetap manusia. Tidak ada teknologi tanpa ilmuwan. Tidak ada inovasi tanpa peneliti. Tidak ada industri strategis tanpa insinyur dan tenaga profesional yang kuat.
Karena itu, ia menilai bonus demografi Indonesia harus diarahkan untuk memperkuat sains, teknologi, teknik, dan inovasi. Perguruan tinggi, lembaga riset, industri, dan institusi strategis negara harus bergerak dalam satu ekosistem.
Menurut Budhi, pelajaran utama dari Missile City Iran bukan terletak pada bunker atau rudalnya. Pelajaran terpenting adalah konsistensi membangun kemampuan nasional dalam jangka panjang.
Ia menyebut Indonesia punya peluang besar menuju Indonesia Emas 2045 jika mampu memperkuat industri pertahanan, menguasai teknologi strategis, dan membangun sumber daya manusia unggul.
“Dari Missile City Iran, pelajaran yang dapat dipetik bukanlah mengenai bentuk persenjataannya, melainkan keteguhan sebuah bangsa dalam membangun kemampuan sendiri,” kata Budhi.
