JAKARTA – Harga emas di Dubai kembali naik pada Jumat. Investor masih menimbang ketegangan geopolitik terkait konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran, sambil menunggu arah inflasi dan suku bunga di Amerika Serikat.
Menurut laporan Gulf News dikutip Sabtu, 30 Mei, emas 24 karat di Uni Emirat Arab dibuka pada 544 dirham per gram, naik dari 541,25 dirham pada penutupan sehari sebelumnya.
Emas 22 karat juga naik menjadi 503,75 dirham per gram, dari sebelumnya 501,25 dirham.
Kenaikan ini terjadi ketika pasar belum sepenuhnya tenang. Investor masih memantau kemungkinan perpanjangan gencatan senjata AS-Iran dan dampaknya terhadap stabilitas ekonomi global.
Di pasar internasional, harga emas berada di 4.518,27, naik 16,37 poin atau 0,36 persen. Namun, analis menilai arah emas masih rapuh setelah sempat turun tajam.
Daniela Hathorn, analis pasar senior Capital.com, mengatakan emas kembali mendapat tekanan karena imbal hasil obligasi naik, dolar AS menguat, dan kekhawatiran geopolitik mulai mereda.
Imbal hasil obligasi adalah tingkat keuntungan dari surat utang. Jika imbal hasil naik, sebagian investor bisa beralih dari emas ke aset lain yang memberi hasil lebih jelas.
Menurut Hathorn, pasar mulai kembali melirik aset berisiko karena kecemasan terhadap konflik Timur Tengah tidak sebesar sebelumnya.
Harga emas di India juga naik tajam. Emas 24 karat naik menjadi 157.640 rupee per 10 gram, dari 156.050 rupee sehari sebelumnya. Emas 22 karat naik menjadi 144.500 rupee, dari 143.050 rupee.
Hathorn menilai membaiknya harapan terhadap perundingan AS-Iran dan berkurangnya kekhawatiran atas gangguan besar pasokan energi ikut melemahkan permintaan terhadap emas sebagai aset aman.
Aset aman adalah instrumen yang biasanya diburu investor saat pasar bergejolak. Emas sering masuk kategori ini karena dianggap relatif tahan saat ketidakpastian meningkat.
Gulf News melaporkan, turunnya harga minyak juga membantu meredakan kekhawatiran soal lonjakan inflasi berkepanjangan akibat konflik Iran.
Dengan begitu, kenaikan harga emas di Dubai dan India masih dibayangi tekanan dari dolar AS, imbal hasil obligasi, serta perubahan sentimen pasar terhadap konflik Timur Tengah.
