JAKARTA – Ketua parlemen sekaligus negosiator utama Iran menuduh Presiden Amerika Serikat Donald Trump melakukan “diplomasi sandiwara” di tengah keterangan yang sangat bertolak belakang antara Washington dan Teheran mengenai perundingan untuk membuka kembali Selat Hormuz.
“‘Serangan besar akan datang… tunggu, lupakan saja, mereka ingin bernegosiasi.’ Itu adalah diplomasi sandiwara yang terus berulang,” tulis ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, di media sosial dilansir CNN, Jumat, 7 Agustus.
Komentar Ghalibaf tampaknya merupakan respons terhadap Trump, yang berulang kali menyatakan perundingan dengan Iran sedang berlangsung. Trump sempat mengatakan kepada Fox News pada Selasa: “Mereka melakukan perundingan sepanjang hari ini, dan tampaknya situasinya sangat baik.”
Teheran membantah adanya perundingan AS-Iran yang sedang berlangsung maupun yang direncanakan, namun juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan para mediator sedang berupaya meredakan ketegangan dan menyampaikan pesan di antara kedua belah pihak.
Akhir pekan lalu, Trump mengatakan dirinya membatalkan rencana serangan terbesar AS terhadap negara lain sejak Perang Dunia II karena Iran ingin bernegosiasi.
Trump saat itu memperingatkan Teheran mereka akan menghadapi serangan “sangat keras” jika kesepakatan tidak tercapai.
Ghalibaf mengatakan tindakan Amerika Serikat yang menggunakan taktik intimidasi, pengingkaran janji, dan apa yang disebutnya sebagai berita palsu sebagai alat penekan merupakan “strategi yang gagal.”
“Akui fakta yang ada dan penuhi komitmen Anda. Kami tidak butuh sandiwara lagi,” imbuhnya.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
