JAKARTA – Badan Gizi Nasional (BGN) menyatakan sekitar enam juta liter minyak jelantah dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berpotensi besar dalam mendukung pengembangan energi hijau dan ekonomi sirkular nasional.
Kepala BGN Dadan Hindayana mengatakansetiap satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) diperkirakan menghasilkan sekitar 500 hingga 590 liter minyak jelantah per bulan. Dengan jumlah SPPG yang kini mencapai sekitar 17.200 unit di Pulau Jawa, potensi minyak jelantah yang dihasilkan diperkirakan mencapai 6 juta liter setiap bulan.
“Jadi, kalau dikalikan 500 liter itu kurang lebih akan ada sekitar 6 juta liter per bulan,” katanya dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat.
Menurut Dadan, setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) rata-rata menggunakan sekitar 800 liter minyak goreng setiap bulan dan sebagian besar akan berubah menjadi minyak jelantah.
“Di luar dugaan saya, setiap SPPG ini menggunakan kurang lebih 800 liter minyak goreng setiap bulan, dimana 70 persennya akan berakhir menjadi minyak jelantah,” ujar Dadan.
Dadan mengemukakanpenggunaan minyak goreng di lingkungan SPPG juga dibatasi demi menjaga kualitas makanan yang diberikan kepada penerima manfaat Program MBG.
“Perlu diketahui di BGN minyak tidak boleh sering digunakan, maksimal rata-rata tiga kali goreng lalu menjadi minyak jelantah,” ucap Dadan.
Selain pemanfaatan minyak jelantah, BGN juga mulai mendorong penggunaan energi alternatif di lingkungan operasional SPPG melalui pemanfaatan jaringan gas alam danCompressed Natural Gas(CNG) di sejumlah wilayah guna memperkuat sistem energi yang lebih bersih dan efisien.
Dadan menilai potensi jutaan liter minyak jelantah tersebut dapat menjadi langkah awal dalam membangun kolaborasi pengembangan energi hijau berbasis ekonomi sirkular sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional.
“Saya kira ini bisa menjadi langkah awal untuk program kerja sama kita, sehingga minyak yang tadinya sampah menjadi bernilai, yang tadinya dibuang, menjadi uang,” tuturnya.
