Ekonom Indef Ungkap Alasan Pertumbuhan Ekonomi Sulit Capai 8 Persen


JAKARTA – Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Didik J Rachbini memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada 2024 dan 2025 akan stagnan di kisaran 5 persen dan akan sulit mencapai 8 persen.

“Indef sudah memprediksi tingkat pertumbuhan tahun ini dan prediksi tahun depan akan stagnan 5 persen,” jelasnya dalam keterangannya, dikutip Jumat, 27 Desember.

Menurut Didik pertumbuhan ekonomi pada 2024 dan 2025 akan stagnan karena selama ini tidak ada strategi kebijakan yang berhasil melepaskan sektor industri dari jebakan deindustrialisasi dini yang tercermin Purchasing Managers’ Index (PMI) melandai ke zona kontraktif atau di bawah 50.

“Dengan sektor industri yang diabaikan tanpa kebijakan berarti seperti ini, apakah layak kita berharap tumbuh 8 persen?,” jelasnya.

Didik menyampaikan pertumbuhan sektor industri tumbuh rendah, selama ini dalam beberapa tahun hanya sekitar 3-4 persen.

“Ini menunjukkan kinerja yang tidak memadai untuk mencapai pertumbuhan di atas 5 persen, apalagi 7 persen seperti target Jokowi atau target 8 persen pada pemerintahan Prabowo Subianto,” ujarnya.

Menurut Didik jika pertumbuhan industri rendah seperti saat ini, maka lupakan target yang tinggi tersebut. Dimana selama pemerintahan Jokowi sektor ini diabaikan sehingga target pertumbuhan 7 persen sangat meleset.

Didik menyampaikan sektor industri Indonesia saat ini terjebak dalam proses deindustrialisasi dini, sehingga harus diatasi melalui reindustrialisasi berbasis sumber daya alam (SDA) Indonesia yang melimpah.

Hal ini penting untuk bersaing dan memenangkan pasar internasional, yang pada gilirannya akan memastikan keberhasilan di pasar domestik.

Didik menyampaikan, strategi ini terbukti sukses di negara industri yang berbasis sumber daya alam, industri berorientasi ekspor, atau industri yang memiliki pandangan ke luar atau outward looking industry.

“Strategi industri ini pernah dijalankan pemerintah Indonesia pada tahun 1980-an dan awal 1990-an dengan hasil yang bisa mendorong pertumbuhan ekonomi 7-8 persen,” tuturnya.

Menurut Didik, tanpa perubahan strategi semacam ini, mustahil mencapai target pertumbuhan 8 persen.

Karena itu, strategi industri yang mampu bersaing di pasar internasional menjadi kunci keberhasilan pencapaian target pertumbuhan ekonomi tersebut.





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *