JAKARTA – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tengah mempertimbangkan berbagai opsi untuk mempertahankan kehadirannya di Lebanon, setelah mandat pasukan penjaga perdamaian UNIFIL berakhir pada penghujung tahun tahun ini.
Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Operasi Perdamaian, Jean-Pierre Lacroix, menyampaikan hal tersebut dalam pertemuan dengan Presiden Lebanon Joseph Aoun di istana kepresidenan di sebelah timur Beirut, pada Hari Rabu menurut pernyataan dari pihak kepresidenan.
“Terdapat sejumlah opsi yang sedang dipertimbangkan terkait kelanjutan kehadiran PBB di Lebanon setelah berakhirnya mandat Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL),” ujar Lacroix, dilansir dari Anadolu (15/10).
Mandat UNIFIL dijadwalkan berakhir pada penghujung tahun 2026. Lebanon mendesak agar kehadiran internasional tetap dipertahankan di wilayah selatan, karena menganggapnya sebagai elemen penting bagi stabilitas.
Lebih lanjut Lacroix menyatakan situasi di lapangan di Lebanon selatan masih “kompleks” di tengah aktivitas militer yang terus berlanjut, yang telah berdampak parah terhadap penduduk sipil.
Dikatakannya, Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, telah mengajukan berbagai opsi kepada Dewan Keamanan mengenai masa depan kehadiran PBB di Lebanon setelah UNIFIL, berdasarkan konsultasi dengan pihak berwenang Lebanon.
Lacroix mengatakan posisi Lebanon harus dipertimbangkan dalam diskusi di Dewan Keamanan, seraya mencatat PBB memahami permintaan Beirut untuk memperpanjang mandat UNIFIL untuk sementara waktu.
Ia menegaskan, tujuan PBB adalah mendukung upaya pemulihan stabilitas dan kedaulatan penuh Lebanon.
Sementara itu, Presiden Aoun menegaskan kembali komitmen Lebanon untuk mempertahankan kehadiran UNIFIL.
Ia memperingatkan, penarikan pasukan dapat menciptakan kekosongan keamanan di tengah serangan Israel yang terus berlanjut serta pendudukan Israel atas berbagai desa dan kota di Lebanon selatan.
Presiden Aoun mengatakan, kehadiran pasukan internasional tetap sangat penting dalam situasi saat ini, mengingat sebagian besar wilayah yang diduduki berada di dalam area operasi UNIFIL.
Ia memperingatkan, penarikan UNIFIL akan membawa konsekuensi negatif bagi situasi keamanan dan menyebabkan perkembangan di wilayah tersebut tidak lagi terpantau oleh pihak internasional.
Presiden Lebanon berharap Dewan Keamanan akan menanggapi permintaan negaranya untuk mempertahankan misi UNIFIL selama satu tahun lagi.
Ditambahkannya, militer akan tetap membutuhkan layanan kemanusiaan dan logistik yang disediakan oleh UNIFIL jika mereka mengambil alih penempatan pasukan di wilayah-wilayah tersebut.
Diketahui, UNIFIL telah ditempatkan di Lebanon selatan sejak tahun 1978 berdasarkan resolusi Dewan Keamanan PBB untuk memantau penghentian permusuhan serta membantu menjaga keamanan dan stabilitas.
Menurut otoritas Lebanon, Israel telah melancarkan serangan ke Lebanon, khususnya di wilayah selatan, sejak 2 Maret. Serangan tersebut mengakibatkan lebih dari 4.000 orang tewas, 12.000 orang terluka, dan lebih dari 1 juta orang terpaksa mengungsi.
Serangan-serangan tersebut terus berlanjut meskipun telah ada kesepakatan kerangka kerja pada 26 Juni antara Beirut dan Tel Aviv. Kesepakatan itu mencakup penarikan bertahap pasukan Israel dari wilayah Lebanon yang diduduki, dengan imbalan penempatan militer Lebanon dan pelucutan senjata Hizbullah.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
