JAKARTA – Pemerintah mendorong pengembangan pariwisata sebagai salah satu jalan untuk membantu pemulihan ekonomi warga Flores, Nusa Tenggara Timur, setelah gempa bumi pada Agustus 2026.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan kegiatan perjalanan wisata seperti “Camino de Flores” dapat membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat di berbagai wilayah Pulau Flores.
“Melalui ‘Camino de Flores’, kunjungan wisatawan diharapkan terdistribusi lebih merata ke kabupaten-kabupaten lain di daratan Flores,” kata Widiyanti di Jakarta, dikutip dari Antara, Selasa, 13 Oktober.
Program tersebut menghubungkan situs religi, desa wisata, bentang alam, hingga kegiatan keagamaan dan budaya. Flores selama ini dikenal antara lain lewat Semana Santa dan Festival Golokoe.
Kementerian Pariwisata bersama Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores menetapkan “Camino de Flores” pada 23–27 Oktober 2026 sebagai proyek percontohan Etape Tengah.
Sekitar 70 peserta dari komunitas karitatif akan menempuh rute Bajawa–Boawae–Ende sejauh kurang lebih 70 kilometer.
Rute itu memadukan perjalanan spiritual, budaya, dan sejarah. Setelah Etape Tengah, pemerintah juga menyiapkan proyek percontohan Etape Barat dari Labuan Bajo ke Ruteng, Etape Timur dari Maumere ke Larantuka, hingga seluruh etape.
Widiyanti mengatakan proyek percontohan dilakukan untuk mengukur kesiapan teknis, operasional, kelembagaan, serta keterlibatan daerah.
“Evaluasi dari operasional pilot project ini akan menghasilkan peta rute final, standar kelayakan, dan profil risiko yang menjadi landasan pengembangan ‘Camino de Flores’ menjadi paket wisata yang berkelanjutan,” ujarnya.
Program itu selanjutnya akan ditawarkan kepada pelaku usaha sebagai paket wisata spiritual yang bisa dipasarkan oleh agen perjalanan dan operator tur.
Kementerian Pariwisata dan BPOLBF juga menyusun penilaian risiko dan rencana tanggap darurat. Pemerintah menyiapkan petugas pengawal rute, pos kesehatan, titik air minum bergerak, serta mitigasi cuaca dan medan yang menantang.
Inisiator Camino de Flores, Mari Elka Pangestu, mengatakan gagasan itu terinspirasi dari Camino de Santiago de Compostela, jalur ziarah Katolik terkenal di Spanyol.
Menurut Mari, perjalanan tersebut dirancang agar wisatawan bisa mengenal kehidupan masyarakat Flores lebih dekat, mulai dari spiritualitas, tradisi, budaya, hingga kuliner.
Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena menilai peningkatan kunjungan wisatawan dapat membuka lebih banyak peluang ekonomi bagi warga, termasuk dari jasa akomodasi, layanan wisata, dan produk lokal.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
