Masalah Kesehatan Mental Bisa Muncul Seiring Tugas Perkembangan Usia


JAKARTA — Masalah kesehatan mental dapat muncul pada berbagai tahapan kehidupan seiring dengan tugas perkembangan yang harus dijalani seseorang, mulai dari masa kanak-kanak, remaja, dewasa awal, dewasa akhir hingga lanjut usia.

Psikolog klinis dewasa Miki Amrilya Wardati, S.Psi., M.Psi., Psikolog, mengatakan setiap fase kehidupan memiliki tantangan psikologis yang berbeda. Jika tantangan tersebut dimaknai sebagai sesuatu yang sulit atau mengancam, kondisi itu dapat berpotensi memunculkan permasalahan psikologis.

“Dalam prosesnya ketika menjalankan tugas perkembangan secara psikologis itu, di situlah mulai ada tantangan-tantangan atau mungkin hambatan yang akhirnya berpotensi memunculkan permasalahan psikologis,” kata Miki yang juga anggota Ikatan Psikolog Indonesia dalam temu media di Jakarta, Kamis.

Menurut Miki, salah satu masalah kesehatan mental yang dapat muncul adalah gangguan kecemasan. Kondisi tersebut dapat ditandai dengan rasa takut atau khawatir yang berlebihan, termasuk terhadap sesuatu yang belum terjadi atau situasi yang sebenarnya tidak sebesar sebagaimana yang dibayangkan.

Sementara itu, depresi berkaitan dengan perubahan pada aspek perasaan atau afek seseorang. Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan berbagai pengalaman kehidupan, termasuk kehilangan orang yang memiliki arti penting atau munculnya persoalan dalam hubungan dengan orang yang signifikan.

“Sehingga muncul gangguan-gangguan gejala yang kaitannya dengan depresi, misalkan kehilangan orang yang signifikan atau ada permasalahan dengan orang yang signifikan. Nah, itu biasanya menjadi sumber kenapa seseorang mengalami depresi,” ujar Miki.

Tuntutan Berbeda di Setiap Tahap Usia

Miki menjelaskan, tugas perkembangan berubah sesuai dengan tahapan usia. Pada masa anak-anak, misalnya, seseorang mulai menjalani pendidikan, belajar mandiri, serta mengembangkan kemampuan sosial.

Memasuki usia dewasa, tuntutan tersebut dapat berkembang menjadi kemandirian finansial, produktivitas, hingga membangun hubungan yang lebih serius, termasuk pernikahan.

Berbagai tuntutan tersebut dapat menjadi sumber kekhawatiran apabila seseorang memaknainya sebagai sesuatu yang mengancam atau sulit untuk dihadapi.

“Ketika dihadapkan tugas-tugas perkembangan tersebut di masing-masing usia, kemudian individu ini memaknakan tugas tersebut sebagai sesuatu yang mengancam, sesuatu yang sulit, nah di situlah muncul pikiran-pikiran irasional pada akhirnya. Dan lebih jauh lagi nanti akhirnya menjadi gangguan kecemasan,” jelas Miki.

Menurut dia, kekhawatiran juga dapat muncul meskipun persoalan yang menjadi sumber kecemasan belum benar-benar terjadi. Karena itu, cara seseorang memaknai dan merespons tuntutan perkembangan pada setiap fase kehidupan menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan.

Gangguan Kecemasan Jadi Diagnosis Tertinggi dalam Konsultasi

Gambaran mengenai persoalan kesehatan mental di Indonesia juga terlihat dalam laporan Indonesia Health Insights Report bertajuk “Navigating Indonesia’s Mental Health Landscape 2026” yang dipublikasikan Halodoc.

Dalam laporan tersebut, gangguan ansietas disebut menjadi diagnosis tertinggi dalam konsultasi kesehatan mental sepanjang semester I 2026, dengan proporsi mencapai 31,6 persen dari total konsultasi. Angka tersebut disebut tumbuh 47,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Secara global, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebelumnya memperkirakan sekitar satu dari delapan hingga satu dari sepuluh orang mengalami gangguan kesehatan jiwa.

Sementara itu, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin pada 9 Maret 2026 menyampaikan bahwa program Cek Kesehatan Gratis (CKG) 2025–2026 menemukan indikasi gejala kecemasan dan depresi pada hampir 10 persen dari sekitar 7 juta anak yang mengikuti pemeriksaan.

Berdasarkan data yang disampaikan Menteri Kesehatan, sekitar 4,4 persen atau 338 ribu anak menunjukkan gejala cemas (anxiety disorder), sedangkan 4,8 persen atau sekitar 363 ribu anak menunjukkan gejala depresi (depression disorder).

Temuan tersebut menunjukkan pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental sejak usia dini, terutama ketika anak dan remaja menghadapi berbagai tugas perkembangan dan perubahan dalam kehidupannya.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *