JAKARTA – Danantara akan mendorong optimalisasi aset BUMN mulai awal 2027 setelah program konsolidasi perusahaan pelat merah berjalan. Pemerintah juga membuka ruang kerja sama lebih luas dengan sektor swasta untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi.
Kepala BPI Danantara Rosan Roeslani mengatakan besarnya aset BUMN belum sepenuhnya sebanding dengan pendapatan dan arus kas yang dihasilkan.
“Aset-aset BUMN juga sangat banyak. In terms of aset kita besar, tapi in terms of cash flow-nya, pendapatannya mungkin berbanding asetnya masih sangat kecil,” kata Rosan seusai rapat di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin, 5 Oktober.
Menurut Rosan, Presiden Prabowo Subianto meminta aset-aset tersebut dioptimalkan melalui perencanaan yang terukur dan terstruktur. Sebagai sovereign wealth fund, Danantara juga dituntut menghasilkan imbal hasil yang baik.
Tahap berikutnya akan menyasar berbagai sektor. Rosan menyebut jalan tol, bandara, minyak dan gas, hingga pelabuhan sebagai aset yang akan dianalisis.
“Kita akan analisa semua,” ujarnya.
Rosan mengatakan konsolidasi yang berjalan selama ini menjadi tahap awal. Fokus selanjutnya adalah meningkatkan produktivitas aset, memperbaiki efisiensi, dan membuka peluang kerja sama dengan dunia usaha.
“Kalau memang yang sudah bagus, sudah bisa dikerjakan oleh private sector, ya silakan, kita dukung,” katanya.
Menurut Rosan, keterlibatan swasta terutama terbuka pada usaha yang tidak bersifat strategis dan dinilai dapat dikelola lebih baik oleh sektor tersebut.
Langkah itu berjalan bersamaan dengan perampingan BUMN. Dari 1.074 perusahaan sebelumnya, jumlahnya disebut telah berkurang menjadi 354 melalui penutupan entitas tidak aktif dan sejumlah merger.
Rosan mengatakan tahap lanjutan pada 2027 tidak lagi hanya berbicara soal jumlah perusahaan, tetapi juga seberapa produktif aset BUMN menghasilkan pendapatan dan imbal hasil.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
