JAKARTA – Bank Jakarta memperkuat komitmen terhadap pengelolaan lingkungan melalui pembangunan fasilitas pengolahan sampah organik berbasis biodigester komunal di Rusunawa Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara.
Fasilitas tersebut dirancang untuk mengolah sampah organik rumah tangga menjadi biogas yang dapat dimanfaatkan kembali sebagai energi untuk kebutuhan memasak warga.
Selain biogas, proses pengolahan juga menghasilkan pupuk organik cair dan pupuk padat.
Direktur Utama Bank Jakarta Agus H Widodo mengatakan program tersebut merupakan bagian dari upaya perseroan membangun ekosistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
“Bagi Bank Jakarta, program lingkungan ini bukan hanya sekadar instalasi, melainkan bagian dari upaya membangun ekosistem pengelolaan sampah yang lebih dekat dengan masyarakat dan memiliki manfaat langsung,” ujar Agus saat peninjauan fasilitas biodigester, Senin, 5 Oktober.
Menurutnya, pemanfaatan sampah sebagai sumber energi terbarukan menjadi kebutuhan bagi Jakarta seiring meningkatnya tantangan pengelolaan sampah perkotaan.
Instalasi biodigester di Rusunawa Rorotan dan TPS 3R Kelurahan Rawa Badak Utara menggunakan digester biogas berbahan fiberglass yang dilengkapi mesin pembubur sampah organik berkapasitas 250 kilogram per jam.
Fasilitas tersebut mampu memberikan pengurangan emisi gas rumah kaca hingga 154,4 ton CO2e per tahun. Dari proses pengolahan, dihasilkan biogas sebagai pengganti LPG, pupuk organik cair sebanyak 400-450 liter per hari, serta pupuk padat sekitar 50-100 kilogram per hari.
Pupuk yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan urban farming masyarakat sekitar.
Ketua Pansus CSR/TJSL DPRD DKI Jakarta Ghozi Zulazmi mengatakan inovasi tersebut relevan untuk diterapkan di kawasan permukiman padat karena sekitar 60 persen sampah berasal dari aktivitas organik rumah tangga.
“Sekitar 60 persen sampah kita itu organik dari dapur atau rumah tangga yang memang butuh pengolahan khusus. Kami berharap dengan adanya biodigester ini, sampah bisa terolah langsung di tempat dan dihasilkan menjadi energi terbarukan berupa biogas yang bisa digunakan kembali oleh para penghuni rusun untuk memasak,” katanya.
Ghozi menilai program tersebut perlu diperluas ke wilayah lain di DKI Jakarta. Menurutnya, pelaksanaan program CSR/TJSL BUMD juga menjadi bagian dari fungsi pengawasan DPRD.
Pansus CSR/TJSL DPRD DKI Jakarta saat ini turut mendorong pembentukan Perda CSR sebagai landasan hukum yang lebih kuat.
“Mindset selama ini CSR adalah bentuk sukarela atau hadiah, padahal sebenarnya TJSL ini adalah bentuk kewajiban yang dilakukan oleh perusahaan, termasuk BUMD,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Utara Edy Mulyanto mengatakan kapasitas fasilitas biodigester di Rusunawa Rorotan mencapai 1,2 ton sampah per hari.
Rusunawa tersebut terdiri atas empat tower dengan sekitar 300-400 kepala keluarga.
Menurut Edy, kapasitas tersebut dinilai sesuai untuk menyerap sampah organik yang berasal dari aktivitas dapur warga.
Jakarta Utara juga ditetapkan sebagai wilayah pilot project road map pengelolaan sampah di Indonesia.
Edy menambahkan, keberadaan fasilitas pengolahan sampah di tingkat lokal turut meningkatkan kesadaran masyarakat dalam memilah sampah.
Tingkat pemilahan sampah rumah tangga di lokasi percontohan meningkat dari sekitar 5 persen menjadi hampir 90 persen.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
