JAKARTA – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyoroti keributan yang terjadi setelah acara Maulid Nabi Muhammad SAW di Jalan Kramat 2, Pondok Pinang, Jakarta Selatan, berlangsung hingga dini hari dan diwarnai penggunaan petasan.
Pramono meminta kegiatan serupa tidak kembali mengganggu ketertiban masyarakat. Menurut dia, kegiatan perayaan tetap bisa dilakukan, tetapi penggunaan petasan hingga larut malam perlu dibatasi.
“Saya minta ini mudah-mudahan tidak terulang kembali,” kata Pramono ditemui di kawasan TB Simatupang, Jakarta Selatan, Senin, 5 Oktober.
Pramono mengaku langsung mengikuti perkembangan kejadian tersebut setelah mendapat informasi mengenai keributan yang terjadi pada Sabtu, 3 Oktober dini hari. Ia kemudian meminta jajaran Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk turun tangan.
“Kebetulan saya mengikuti begitu peristiwa terjadi. itu kan hampir jam 00.30 malam. Kurang lebih jam 02.00 saya membaca itu, kemudian saya meminta kepada jajaran Pemerintah DKI Jakarta untuk berperan,” tutur Pramono.
Menurut Pramono, kegiatan yang menggunakan petasan masih dapat dilakukan apabila waktunya tidak mengganggu warga sekitar. Namun, ia meminta penggunaan petasan dihentikan ketika sudah memasuki larut malam.
“Hal yang berkaitan dengan itu kita batasi. Kalau memang jam masih jam sore, monggo saja, tapi jangan kemudian mengganggu ketertiban masyarakat,” tegas Pramono.
Pramono juga menyinggung kondisi seorang anak berkebutuhan khusus (ABK) yang disebut sensitif terhadap suara petasan. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan warga mempersoalkan penggunaan petasan hingga dini hari.
“Karena bagaimanapun tidak elok, lah, bahwa sudah jam 01.00 malam masih menyembunyikan petasan dan sebagainya. Kebetulan anaknya Ibu tadi kan memang sensitif terhadap petasan dan sebagainya,” tutupnya.
Keributan tersebut sebelumnya terjadi setelah warga memprotes suara petasan dan kembang api yang dinyalakan dalam acara Maulid Nabi di kawasan Pondok Pinang hingga sekitar pukul 01.00 WIB.
keributan dipicu kembang api dan petasan yang dinyalakan sekitar pukul 00.00 WIB hingga 01.00 WIB. Suara ledakan disebut mengganggu warga yang tengah beristirahat di permukiman sekitar lokasi acara.
Seorang warga kemudian mendatangi lokasi untuk menyampaikan keberatan. Dalam rekaman video yang beredar, terlihat perdebatan antara warga dengan sejumlah orang yang berada di lokasi acara.
Situasi disebut semakin memanas setelah seorang ibu yang memiliki anak berkebutuhan khusus (ABK) ikut menyampaikan protes. Ia mengeluhkan suara ledakan yang membuat anaknya terbangun dan mengalami ketakutan.
Keributan kemudian terjadi ketika protes warga mendapat respons dari sejumlah peserta acara. Dalam video yang beredar, terdengar pula ucapan bernada intimidatif terhadap warga yang menyampaikan keberatan.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
