JAKARTA — Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengklaim bahwa Iran “hampir menyerah” dalam rencana pengayaan dan pengembangan senjata nuklir. Penahanan ambisi nuklir Teheran tersebut diklaim sebagai salah satu pencapaian utama pemerintahannya di tengah konflik terbuka yang kini memasuki bulan kedelapan.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump kepada wartawan saat bersiap meninggalkan Gedung Putih menuju agenda rapat umum di Ohio, Sabtu (3/10/2026).
Selain membahas isu nuklir, Trump turut menyoroti stabilitas harga minyak global yang sempat melonjak pasca-serangan militer yang dilancarkan AS dan Israel terhadap kawasan Iran pada akhir Februari lalu.
“Harga minyak turun. Saat ini harga minyak bahkan lebih rendah dibandingkan pada masa pemerintahan Biden,” ujar Trump. Dalam kesempatan yang sama, ia juga mengkritik kebijakan pendahulunya, Joe Biden, yang dinilainya tidak melakukan tindakan efektif untuk mencegah kepemilikan senjata nuklir oleh Iran.
Bantahan Teheran dan Tegasan Posisi Nuklir Damai
Klaim sepihak dari Washington tersebut berbanding terbalik dengan posisi resmi Pemerintah Iran. Teheran secara konsisten membantah tuduhan AS dan Israel terkait ambisi pengembangan senjata pemusnah massal.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, kembali menegaskan posisi negaranya saat menghadiri Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York. Pezeshkian menegaskan bahwa Iran tidak memroduksi senjata nuklir karena bertentangan dengan prinsip landasan agama.
Sebagai bentuk komitmen transparansi, Pezeshkian menyatakan kesiapan Iran untuk menurunkan tingkat pengayaan uranium melalui proses pengawasan internasional yang ketat.
Meski demikian, pihak Teheran menggarisbawahi tidak akan menghentikan program nuklir yang ditujukan untuk maksud damai, serta menolak memberikan konsesi struktural sebelum AS mencabut sanksi ekonomi terhadap Iran.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
