JAKARTA – Kebiasaan mendapat pujian dan pengakuan secara instan di media sosial dinilai dapat memicu rasa selalu ingin diperhatikan atau diperlakukan istimewa dalam kehidupan nyata.
Guru Besar Psikologi Swansea University Phil Reed mengatakan fitur seperti tombol suka, komentar, jumlah penonton, dan pengikut memberi respons cepat yang memicu kepuasan instan.
Menurut tulisannya di Psychology Today yang dikutip dari Antara, Sabtu, 3 Oktober, menyebut pola tersebut membentuk sistem ganjaran sosial yang kuat di otak.
Sejumlah penelitian neurosains, kata Reed, menunjukkan respons terhadap penghargaan digital bahkan dapat lebih kuat dibandingkan ganjaran berupa materi atau uang.
Validasi daring itu dapat menjadi penguat emosional, terutama pada individu yang sangat membutuhkan pengakuan sosial.
Masalah muncul ketika pola tersebut terbawa ke kehidupan sehari-hari.
Pengguna yang terbiasa menerima pujian atau respons cepat di media sosial bisa mulai mengharapkan perlakuan serupa di tempat kerja, kampus, maupun dalam hubungan pribadi.
“Kondisi ini menimbulkan jurang frustrasi ketika interaksi sehari-hari gagal menyamai dunia maya yang serba cepat dan serba instan,” kata Reed.
Ketika harapan itu tidak terpenuhi, kekecewaan dapat berkembang menjadi kemarahan atau rasa berhak mendapat perlakuan khusus.
Reed juga menyoroti cara media sosial menampilkan kehidupan penggunanya.
Sebagian besar konten yang muncul merupakan hasil kurasi. Yang terlihat biasanya pencapaian akhir, sementara proses, kegagalan, pengorbanan, dan kerja keras di baliknya jarang ikut ditampilkan.
Menurut Reed, kondisi tersebut dapat membuat seseorang memiliki gambaran yang tidak utuh tentang bagaimana keberhasilan sebenarnya dicapai.
Ia menyarankan pengguna media sosial membangun kesadaran kritis ketika menerima berbagai bentuk pengakuan digital.
Pengguna juga perlu lebih menghargai proses dan kerja nyata, bukan hanya mengejar perhatian atau visibilitas di media sosial.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
