JAKARTA – Kebudayaan menawarkan kemungkinan lain, saat perbedaan menjadi sumber perpecahan di dunia saat ini, kata Duta Besar RI untuk Prancis, Monako, Andorra dan UNESCO Mohamad Oemar.
Alunan Kolintang dari Minahasa, Sulawesi Utara, dibawakan oleh Persatuan Insan Kolintang Nasional (PINKAN) Indonesia, berpadu dengan Balafon dari Afrika Barat di Markas Besar UNESCO, Paris, dalam kegiatan “Celebrating Kolintang: Resonances of Shared Cultural Heritage.”
Pertemuan dua tradisi musik lintas benua di Ségur Hall, UNESCO Headquarters tersebut membawa pesan, warisan budaya dapat menjadi ruang perjumpaan, dialog, dan kerja sama antarbangsa, dengan disaksikan Direktur Jenderal UNESCO Khaled El-Enany, para Duta Besar dan Delegasi Tetap negara anggota, termasuk perwakilan Mali, Burkina Faso, dan Côte d’Ivoire, bersama seniman dan pemangku tradisi Kolintang dan Balafon.
Berbicara dalam acara yang digelar Kamis (1/10) itu Dubes Oemar mengatakan, perayaan Kolintang bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi juga membawa pesan yang sejalan dengan mandat UNESCO dalam membangun perdamaian melalui kebudayaan.
“Warisan yang menjadi milik bersama tidak menghapuskan kepemilikan atau identitasnya, tetapi karena penghormatan dan apresiasi terhadapnya semakin luas. Di tengah dunia yang sering menjadikan perbedaan sebagai sumber perpecahan, kebudayaan menawarkan kemungkinan lain: perbedaan membuka ruang dialog, dialog membangun kepercayaan, dan kepercayaan membantu kita membangun perdamaian,” jelas Dubes Oemar, melansir keterangan KBRI Paris (3/10).

Diketahui, Kolintang merupakan tradisi musik yang hidup turun-temurun masyarakat Minahasa, Sulawesi Utara. Instrumen yang terbuat dari bilah-bilah kayu tersebut juga membawa pengetahuan mengenai keterampilan pembuatan instrumen, kreativitas, transmisi antargenerasi, serta nilai kebersamaan dan harmoni.
Perjalanan Kolintang di UNESCO memiliki dimensi internasional yang kuat. Pada 2012, praktik budaya dan ekspresi terkait Balafon masyarakat Senufo dari Mali, Burkina Faso, dan Côte d’Ivoire masuk dalam Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity melalui nominasi multinasional ketiga negara.
Dua belas tahun kemudian, pada tahun 2024, Indonesia bergabung melalui perluasan nominasi tersebut dengan memasukkan Kolintang.
Dengan demikian, Kolintang secara resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO pada 2024, dan elemen tersebut menjadi “Cultural practices and expressions linked to Balafon and Kolintang in Mali, Burkina Faso, Côte d’Ivoire and Indonesia.”
Kolintang dan Balafon yang berasal dari sejarah, komunitas, dan lanskap budaya yang berbeda, namun dipertemukan melalui semangat shared cultural heritage.
Sementara itu, Assistant Director-General for Culture UNESCO, Nayef Al-Fayez dalam kegiatan tersebut menyampaikan pentingnya warisan budaya dalam kerangka kerja sama internasional dan peran komunitas dalam menjaga keberlanjutan warisan untuk generasi mendatang.
Pandangan tersebut sejalan dengan pendekatan UNESCO yang menempatkan komunitas sebagai bagian penting dari upaya kolektif pelindungan dan pewarisan kebudayaan.
“Semangat UNESCO bukan tentang siapa memiliki apa. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana komunitas tetap menjadi pusat, bagaimana pengetahuan diwariskan kepada generasi berikutnya, dan bagaimana sebuah warisan tetap hidup,” ujar ADG Al-Fayez.

Kolaborasi musik kolintang dan balafon memperlihatkan bentuk konkret diplomasi kebudayaan yang tidak berhenti pada upaya memperkenalkan budaya nasional. Keduanya lahir dari sejarah, tradisi, dan komunitas yang berbeda, dan disanalah makna shared cultural heritage menjadi penting.
Diplomasi kebudayaan membuka ruang bagi perbedaan untuk saling mengenal, memahami, dan menghargai, serta mengubah perjumpaan menjadi peluang untuk membangun kerja sama.
Ketika kolintang dapat berdialog dengan balafon, warisan budaya tidak menjadi batas yang memisahkan, melainkan jembatan yang mempertemukan.
Grup PINKAN Kolintang Indonesia dalam acara tersebut membawakan sejumlah repertoar, antara lain “O Ina Ni Keke, Si Patokaan, Bengawan Solo“, serta karya musik internasional. Para seniman Balafon dari Mali, Burkina Faso, dan Côte d’Ivoire juga menampilkan tradisi musik masing-masing.
Puncak acara mempertemukan para pemain Kolintang dan Balafon dalam satu panggung melalui penampilan bersama “La Vie en Rose.”
Kolaborasi tersebut menjadi simbol perjumpaan Asia dan Afrika: dua tradisi dengan identitas berbeda yang dapat menciptakan harmoni dalam ruang yang sama.
Melalui Celebrating Kolintang, Indonesia menegaskan warisan budaya bukan hanya peninggalan masa lalu, tetapi sumber dialog untuk membangun masa depan.
Dari Minahasa hingga Afrika Barat, Kolintang dan Balafon menunjukkan bahwa akar budaya dapat berbeda, namun resonansinya dapat bertemu dalam semangat saling menghormati, solidaritas, dan perdamaian.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
