HALMAHERA UTARA – PT Nusa Halmahera Minerals atau NHM memperkuat kesiapsiagaan menghadapi kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di sekitar area operasinya. Risiko yang diantisipasi bukan hanya kebakaran, tetapi juga asap, turunnya jarak pandang, gangguan keselamatan hingga potensi penghentian pekerjaan.
HSE System Specialist NHM Andri Prasetyo mengatakan penanganan karhutla di wilayah tambang memiliki tantangan tersendiri. Area yang luas, cuaca terik, akses yang tidak selalu mudah, serta api yang cepat menyebar membuat respons harus disiapkan sejak awal.
“Karhutla tidak bisa dipandang hanya sebagai kebakaran biasa. Dalam konteks operasional tambang, dampaknya bisa berantai, mulai dari asap dan menurunnya visibilitas, meningkatnya risiko keselamatan, terganggunya aktivitas kerja, sampai potensi penghentian pekerjaan,” kata Andri dalam keterangan tertulis yang diterima Sabtu, 3 Oktober.
NHM menjalankan pencegahan dan respons darurat secara bersamaan.
Di area yang berbatasan dengan hutan atau lahan rawan terbakar, perusahaan membangun dan memelihara buffer zone atau fire break, yakni jalur pembatas untuk menghambat penyebaran api.
Vegetasi kering dan material mudah terbakar juga dibersihkan secara berkala. Pemantauan titik panas dan cuaca dilakukan untuk mendeteksi potensi kebakaran lebih awal.
Perusahaan juga memetakan daerah rawan berdasarkan riwayat kejadian, kondisi vegetasi, akses, dan cuaca. Jalur kendaraan pemadam, sumber air, serta titik pengisian disiapkan di lokasi yang dinilai berisiko.
Patroli ditingkatkan pada periode risiko tinggi. NHM juga melakukan sosialisasi kepada pekerja dan masyarakat sekitar serta berkoordinasi dengan kepolisian, Dinas Kehutanan, Dinas Lingkungan Hidup, dan Dinas ESDM.
Untuk kondisi darurat, Emergency Response Team atau ERT menjadi tim utama di lapangan.
Captain ERT NHM Hendrick Lesa mengatakan petugas tidak langsung masuk ke titik api sebelum melakukan penilaian risiko.
“Respons terhadap karhutla harus cepat, tetapi tetap aman. ERT tidak langsung masuk untuk memadamkan api begitu saja, melainkan melakukan assessment terlebih dahulu agar tindakan yang diambil tidak justru menempatkan personel dalam kondisi berbahaya,” ujarnya.
Penanganan dilakukan melalui struktur komando. Manajemen atau Incident Commander menjadi pengarah, sementara Command Center berfungsi sebagai pusat koordinasi dan pengendalian informasi.
Tim drone digunakan untuk mendeteksi titik api, terutama di wilayah luas atau sulit dijangkau.
NHM juga membagi kekuatan respons dalam tiga lapis. Lapisan pertama diisi ERT sebagai tim utama. Lapisan kedua melibatkan relawan ERT serta Fire Warden atau tim pemadam dari departemen terkait. Lapisan ketiga berupa dukungan sumber daya internal perusahaan.
Sejumlah departemen ikut terlibat, mulai dari HSE, lingkungan, operasi, perawatan, keamanan, klinik, hubungan masyarakat, logistik hingga manajemen. Departemen sipil bertugas memastikan akses jalan, jalur evakuasi, dan infrastruktur pemadaman tersedia.
Setiap kejadian kemudian dievaluasi untuk memperbaiki sistem kesiapsiagaan berikutnya.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
