
JAKARTA – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan baru sekitar 25 persen sekolah di Indonesia yang telah mengajarkan coding dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) sebagai mata pelajaran pilihan.
“Dalam data kami, baru ada 25 persen sekolah yang mengajarkan coding dan AI,” kata Abdul Mu’ti saat memaparkan kebijakan peningkatan mutu pendidikan dasar dan menengah dalam Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia (Konaspi) di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, dikutip Antara, Sabtu, 3 Oktober.
Ia menjelaskan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) membuka kesempatan pembelajaran coding dan AI mulai kelas 5 sekolah dasar (SD) hingga sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA).
Kebijakan tersebut diarahkan untuk memperluas pengenalan teknologi digital dan kecerdasan buatan kepada peserta didik sejak jenjang pendidikan dasar.
Namun, pelaksanaan pembelajaran tersebut membutuhkan kesiapan tenaga pendidik, terutama melalui pelatihan agar guru mampu menyampaikan materi sesuai dengan jenjang pendidikan.
Abdul Mu’ti mengatakan peningkatan kualitas guru menjadi salah satu faktor penting dalam menjalankan berbagai kebijakan prioritas Kemendikdasmen.
Karena itu, Kemendikdasmen membutuhkan dukungan perguruan tinggi untuk memperkuat kompetensi tenaga pendidik melalui berbagai program pelatihan.
“Kami ingin mendapatkan dukungan dari Bapak, Ibu sekalian, para pimpinan perguruan tinggi agar guru kami lebih berkualitas. Oleh karena itu, berbagai pelatihan tentu harus banyak kita laksanakan,” ujarnya di hadapan para rektor dan dosen dari berbagai universitas di Indonesia.
Selain coding dan AI, Kemendikdasmen memprioritaskan pengembangan STEM yang mencakup sains, teknologi, teknik, dan matematika.
Kebijakan tersebut ditujukan untuk meningkatkan minat peserta didik terhadap bidang-bidang yang dibutuhkan dalam pengembangan sumber daya manusia berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.
Abdul Mu’ti menjelaskan pemerintah mengembangkan pendekatan STEM 5M, yakni mudah, murah, menggembirakan, mindful, dan meaningful. Pendekatan tersebut diharapkan membuat pembelajaran sains dan matematika lebih mudah dipahami serta tidak dianggap sebagai bidang yang menakutkan oleh peserta didik.
Kemendikdasmen juga menjalankan kebijakan pembelajaran mendalam (deep learning) dan penguatan pendidikan karakter melalui bimbingan konseling.
Selain itu, Bahasa Inggris direncanakan menjadi mata pelajaran wajib mulai kelas 3 SD pada tahun ajaran 2027/2028.
Abdul Mu’ti menekankan peningkatan mutu pendidikan tidak dapat dilakukan secara terpisah antara jenjang pendidikan dasar, menengah, dan tinggi.
Menurut dia, ketiga jenjang tersebut perlu membangun ekosistem pendidikan yang saling memperkuat, termasuk melalui peningkatan kualitas guru dan proses pembelajaran di ruang kelas.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
