Ketidakpastian Ekonomi Dorong Kebutuhan Perlindungan Kekayaan Jangka Panjang



JAKARTA – Executive Vice President Wealth Management BCA Indrawan B mengatakan kondisi ekonomi yang semakin sulit diprediksi mendorong meningkatnya kebutuhan nasabah terhadap solusi perlindungan kekayaan dalam jangka panjang.

Menurut Indrawan, perubahan ekonomi yang berlangsung cepat membuat proyeksi kondisi ekonomi dalam lima hingga 10 tahun ke depan semakin sulit dilakukan secara akurat.

“Kalau kita bicara ini kan ketidakpastian. Kita agak sulit untuk prediksi misalnya lima tahun ke depan mau bagaimana, 10 tahun ke depan mau bagaimana. Karena perubahannya sangat cepat,” kata Indrawan dalam konferensi pers Wealth Prestige Protection di Jakarta, dikutip Antara, Sabtu, 3 Oktober.

Ia mengatakan kondisi ekonomi global dan domestik juga semakin terhubung sehingga perubahan yang terjadi di suatu negara dapat berdampak terhadap negara lainnya.

Dalam kondisi tersebut, kebutuhan perlindungan kekayaan menjadi semakin relevan karena masyarakat perlu mengantisipasi berbagai risiko dalam jangka panjang, termasuk inflasi dan perubahan nilai tukar.

Indrawan menjelaskan nilai kekayaan dalam nominal yang sama dapat memiliki daya beli berbeda pada masa mendatang akibat inflasi.

“Uang Rp1 miliar sekarang dengan uang Rp1 miliar 10 tahun lagi mungkin akan sangat berbeda,” ujarnya.

Ia menuturkan kecenderungan nilai rupiah terhadap dolar AS serta potensi inflasi menjadi sejumlah faktor yang perlu diperhitungkan masyarakat ketika merencanakan perlindungan kekayaan jangka panjang.

Atas dasar itu, BCA menghadirkan solusi perlindungan seperti Prestige Pro melalui kerja sama dengan AIA Indonesia. Produk tersebut dirancang untuk memberikan perlindungan jangka panjang hingga nasabah berusia 99 tahun.

Menurut Indrawan, penggunaan denominasi dolar AS dalam produk tersebut juga menjadi salah satu upaya untuk mengantisipasi ketidakpastian nilai rupiah dalam jangka panjang.

Ia menambahkan, solusi perlindungan kekayaan perlu dirancang dengan mempertimbangkan berbagai risiko sehingga nilai yang diperoleh nasabah tidak hanya diharapkan stabil, tetapi juga dapat tumbuh untuk mengimbangi tekanan inflasi.

“Harus up supaya bisa meng-cover inflasi dan segala macam. Termasuk currency-nya,” katanya.

Lebih lanjut, Indrawan mengatakan BCA tidak menetapkan target penjualan produk tertentu yang harus dikejar oleh tenaga pemasar.

Menurut dia, pendekatan tersebut dilakukan agar kebutuhan nasabah tetap menjadi dasar dalam menawarkan solusi wealth management.

“Kita tidak mau penjualan kita itu di-drive dari keinginan kita menjual. Yang kita mau adalah kita menjual berdasarkan angka yang nasabah kita butuh,” ujarnya.

Indrawan mengatakan pendekatan berbasis kebutuhan nasabah diharapkan membuat solusi wealth management yang ditawarkan lebih tepat sasaran dan sesuai dengan karakter serta preferensi masing-masing nasabah.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *