JAKARTA – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menggenjot hilirisasi batu bara melalui pengembangan teknologi pengolahan batu bara menjadi metanol untuk dapat digunakan sebagai campuran bahan bakar minyak (BBM).
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengatakan, saat ini proses pengembangan hilirisasi batu bara menjadi metanol telah berjalan di beberapa wilayah.
Adapun wilayah ini memanfaatkan batu bara berkalori rendah sehingga dapat memiliki nilai tambah.
“Tempo hari kan kita sudah mulai kegiatan investasi batu bara menjadi metanol yang di Kutai Timur. Saya yang melakukan groundbreaking untuk kegiatan itu,” ujar Yuliot kepada awqak media, Selasa, 29 September.
Tak hanya Kalimantan Timur, kata dia, pihaknya juga mendorong pengembangan hilirisasi batu bara di Sumatera Selatan yang juga memiliki potensi batu bara.
“Itu terutama kita menggunakan batu bara kalori rendah. Jadi, metanol itu kan bisa digunakan sebagai campuran bahan bakar minyak,” sambung Yuliot.
Untuk informasi, sebelumnya Yuliot telah meresmikan proyek gasifikasi batu bara menjadi Metanol di kawasan Batuta Chemical Industrial Park (BCIP), Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.
Proyek ini ditargetkan menghasilkan sekitar 2 juta ton metanol per tahun dan berpotensi menghemat devisa hingga Rp7,1 triliun per tahun.
Proyek ini dikembangkan oleh PT Bumi Etam Chemical (BEC), perusahaan patungan PT Arutmin Indonesia dan PT Kaltim Prima Coal (KPC).
Pembangunannya akan memanfaatkan lahan sekitar 93 hektare di kawasan BCIP.
Proyek ini akan mengolah sekitar 7,70-7,78 juta ton batubara berkalori 3.400 kcal/kg per tahun menjadi metanol berstandar internasional, yaitu International Methanol Producers and Consumers Association (IMPCA) Grade.
Produksi ditargetkan sekitar 2 juta ton metanol per tahun untuk memenuhi kebutuhan domestik, dan mengurangi ketergantungan terhadap impor, mengingat pada tahun 2025, Indonesia masih mengimpor sebesar 1,3 juta ton metanol atau senilai Rp7,1 triliun.
Guna menunjang kegiatan operasional, proyek ini dilengkapi fasilitas gasifikasi, reaktor sintesis, pembangkit listrik, pengolahan air, dan terminal pelabuhan.
Teknologinya juga disiapkan untuk mengendalikan emisi dan terintegrasi dengan Carbon Capture and Storage (CCS).
Metanol yang dihasilkan akan memasok kebutuhan industri, terutama petrokimia dan formaldehida, serta mendukung pengembangan FAME dan program B50.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
