Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS pada Selasa Siang, BI Ungkap Penyebab dan Siapkan Intervensi


JAKARTA – Nilai tukar rupiah menyentuh Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa, 29 September siang. Bank Indonesia (BI) menyebut lonjakan harga minyak dunia, meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga AS, serta kebutuhan dolar dari importir menjelang akhir September turut menekan mata uang Indonesia.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan pelemahan rupiah juga dipengaruhi kekhawatiran pasar terhadap inflasi global dan risiko fiskal.

Tekanan tersebut meningkat ketika harga minyak dunia menembus 108 dolar AS per barel di tengah belum tercapainya kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz.

“Hal ini mendorong ekspektasi pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat lebih lanjut, sehingga yield UST tenor 10 tahun kembali naik ke level 5,23 persen, tertinggi sejak 2007,” kata Erwin dalam keterangannya di Jakarta, seperti dikutip dari Antara, Selasa, 29 September.

Yield merupakan imbal hasil obligasi. Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS membuat aset keuangan negara tersebut semakin menarik bagi investor dan turut menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Selain faktor global, permintaan dolar dari importir menjelang berakhirnya triwulan III ikut menambah tekanan. BI juga mencatat arus keluar dana investor dari portofolio aset negara berkembang di tengah kenaikan imbal hasil obligasi.

Menghadapi kondisi tersebut, BI memastikan akan terus melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas rupiah agar pergerakannya tetap sesuai dengan kondisi fundamental ekonomi.

Intervensi dilakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri, serta transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.

Transaksi spot merupakan jual beli valuta asing dengan penyelesaian dalam waktu dekat. Sementara NDF dan DNDF merupakan instrumen yang dapat digunakan untuk mengurangi risiko akibat perubahan nilai tukar.

BI juga akan membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder dan mengelola struktur suku bunga pasar uang melalui penguatan operasi moneter yang mengikuti mekanisme pasar.

Selain itu, bank sentral meningkatkan insentif untuk transaksi swap dan DNDF sebagai sarana lindung nilai dalam pendanaan luar negeri. Langkah tersebut juga ditujukan untuk menjaga kecukupan likuiditas atau ketersediaan dana di pasar.

“Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar terus dilakukan secara intensif,” ujar Erwin.

Meski rupiah menyentuh Rp18.000 per dolar AS, BI mencatat pergerakannya masih sejalan dengan mata uang negara-negara di kawasan.

Sejak awal triwulan III hingga periode laporan, rupiah tercatat melemah terbatas sebesar 0,67 persen. Sementara itu, cadangan devisa Indonesia meningkat menjadi 146,5 miliar dolar AS pada akhir Agustus 2026.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *