
JAKARTA – Perkembangan artificial intelligence (AI) mulai mengubah dunia kerja. Di tengah perubahan itu, Komisaris Independen PT KAI Endang Tirtana mengingatkan kemampuan manusia tidak boleh ikut tergeser oleh teknologi.
Pesan itu disampaikan Endang dalam orasi ilmiah pada Wisuda Program Diploma, Sarjana, dan Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Periode 123 Tahun 2026. Ia mengangkat perjalanan transformasi PT KAI sebagai gambaran bagaimana organisasi harus beradaptasi menghadapi perubahan teknologi.
Menurut Endang, transformasi KAI tidak berhenti pada digitalisasi layanan. Perubahan juga menyentuh cara perusahaan melayani dan berinteraksi dengan pelanggan.
“Semua perubahan ini bagian dari transformasi KAI yang kita lihat bersama hari ini. Dari sekadar menjalankan kereta, KAI berkembang menjadi perusahaan yang semakin berorientasi pada pengalaman pelanggan danmembangun ekosistem transportasi terintegrasi yang menghubungkan kereta api, commuter line, LRT, MRT, kereta cepat, kerata logistik, kerata bandara, layanan digital, hingga berbagai moda dan layanan pendukung lainnya,” kata Endang dalam keterangannya, Selasa, 29 September.
Salah satu perubahan itu terlihat dari penggunaan aplikasi Access by KAI. Pada semester I 2026, aplikasi tersebut mencatat 17 juta transaksi penjualan tiket kereta api jarak jauh dan lokal.
Namun, Endang mengingatkan digitalisasi tidak boleh membuat manusia kehilangan perannya dalam pelayanan. Teknologi, kata dia, tetap harus ditempatkan sebagai alat untuk mendukung kebutuhan manusia.
“Cara membeli tiket berubah, cara memperoleh informasi berubah, cara berinteraksi dengan pelanggan berubah. Tetapi di tengah seluruh perubahan itu, ada satu hal yang tidak boleh berubah yaitu manusia. Sebab, secanggih apa pun teknologi dan sebaik apa pun sistem yang kita bangun, pada akhirnya manusialah yang menentukan kualitas pelayanan,” jelas Endang.
Ia juga menilai keberhasilan transformasi tidak cukup diukur dari teknologi yang digunakan. Kualitas pengalaman pelanggan tetap menjadi salah satu ukuran penting.
Pada semester I 2026, Customer Satisfaction Index KAI tercatat 4,53 dari skala 5. Pada periode yang sama, terdapat lebih dari 2,2 juta interaksi pelanggan melalui berbagai kanal pelayanan.
“Karena itu, bagi saya, pelayanan bukan sekadar prosedur. Pelayanan adalah bagaimana kita menanusiakan manusia,” tutur dia.
Endang kemudian membawa persoalan itu ke tantangan yang akan dihadapi para wisudawan. Menurut dia, AI sudah masuk ke dunia kerja sehingga lulusan perguruan tinggi tidak cukup hanya mengandalkan ijazah atau kemampuan teknis.
Ia mengutip data Goldman Sachs Research pada April 2026 yang memperkirakan AI telah mengurangi pertumbuhan payroll Amerika Serikat sekitar 16.000 pekerjaan per bulan selama satu tahun terakhir.
Sementara World Economic Forum dalam Future of Jobs Report 2025 memperkirakan hingga 2030 akan muncul sekitar 170 juta pekerjaan baru, sementara sekitar 92 juta pekerjaan terdampak displacement.
Bagi Endang, perubahan tersebut membuat kemampuan beradaptasi menjadi kebutuhan utama. Kompetensi juga harus terus diperbarui agar tetap relevan dengan perubahan kebutuhan dunia kerja.
“Dunia kerja berubah, dan karena itu kita harus berubah bersamanya,” tegasnya.
Ia menyebut kemampuan yang berkaitan dengan kreativitas, komunikasi, kerja sama, pengambilan keputusan, empati, dan pemahaman terhadap konteks akan semakin dibutuhkan ketika pekerjaan rutin mulai banyak dikerjakan dengan bantuan teknologi.
“Semakin AI mengambil pekerjaan yang rutin, semakin penting kemampuan manusia untuk memahami manusia,” ungkapnya.
Karena itu, Endang meminta para lulusan tidak memandang AI hanya sebagai ancaman. Menurut dia, teknologi perlu dikuasai sekaligus dimanfaatkan untuk memperkuat kemampuan manusia. “Semakin pintar teknologi, manusia harus semakin bijaksana,” lanjut Endang.
Endang juga mengingatkan para wisudawan agar proses belajar tidak berhenti setelah mendapatkan ijazah. Ia mendorong mereka menjadi lulusan yang siap bekerja, menyelesaikan persoalan, sekaligus melayani.
“Karena pada akhirnya, nilai seseorang bukan hanya ditentukan oleh seberapa tinggi pendidikannya, seberapa tinggi jabatannya, atau seberapa canggih teknologi yang dikuasainya, tetapi oleh seberapa besar manfaat yang dapat ia berikan kepada manusia,” pungkas Endang.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
