
JAKARTA – Nilai tukar rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa, 29 September. Tekanan datang dari penguatan dolar AS, arus keluar dana asing, kenaikan harga minyak, serta ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.
Pada perdagangan Senin kemarin, rupiah ditutup melemah 75 poin atau 0,42 persen ke level Rp17.978 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp17.903 per dolar AS. Pelemahan rupiah sejalan dengan tekanan yang terjadi pada mayoritas mata uang Asia.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan tekanan terhadap rupiah berasal dari tingginya permintaan dolar AS dari importir, arus keluar dana asing, serta penguatan indeks dolar AS.
“Sentimen pasar secara keseluruhan tetap dibayangi kecemasan eskalasi geopolitik di Timur Tengah, sementara investor cenderung bersikap berhati-hati menjelang rilis serangkaian data ekonomi penting dari dalam dan luar negeri pekan ini,” ujar Lukman.
Untuk perdagangan Selasa ini, Lukman memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp17.900 hingga Rp18.050 per dolar AS.
Sementara itu, Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada kisaran Rp17.900 hingga Rp17.950 per dolar AS.
Ibrahim mengatakan salah satu faktor yang menekan rupiah adalah harga minyak dunia yang bertahan di atas 90 dolar AS per barel. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan tekanan inflasi, fiskal, dan keseimbangan eksternal Indonesia.
Tekanan juga berasal dari meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu distribusi energi melalui Selat Hormuz. Kondisi tersebut dapat mendorong kenaikan harga minyak dan meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven, termasuk dolar AS.
Di sisi lain, pasar akan mencermati sejumlah data ekonomi Amerika Serikat yang akan dirilis pekan ini. Data tersebut antara lain inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE), indeks aktivitas manufaktur ISM, serta laporan tenaga kerja Nonfarm Payrolls (NFP).
Data-data tersebut menjadi perhatian karena dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve atau The Fed.
Dari dalam negeri, investor juga akan mencermati perkembangan inflasi dan data perdagangan Indonesia. Pergerakan harga komoditas, arus modal asing, serta langkah stabilisasi Bank Indonesia turut menjadi faktor yang dapat memengaruhi rupiah.
Bank Indonesia mencatat JISDOR pada Senin 28 September berada di level Rp17.965 per dolar AS, melemah dari posisi sebelumnya Rp17.917 per dolar AS. JISDOR merupakan kurs referensi harga spot dolar AS terhadap rupiah yang disusun berdasarkan transaksi antarbank di pasar valuta asing Indonesia.
Dengan berbagai sentimen tersebut, rupiah pada perdagangan Selasa diperkirakan masih berada dalam tekanan. Level psikologis Rp18.000 per dolar AS menjadi area yang akan diperhatikan pelaku pasar apabila tekanan terhadap rupiah berlanjut.
Pergerakan rupiah juga akan sangat dipengaruhi perkembangan konflik di Timur Tengah, harga minyak dunia, arah dolar AS, serta respons pasar terhadap data ekonomi Amerika Serikat dan Indonesia.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
