IHSG Diprediksi Masih Tertekan, Investor Cermati Support 6.000-6.100



JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih menghadapi tekanan pada perdagangan Selasa, 29 September. Investor akan mencermati kemampuan indeks bertahan di area support setelah IHSG anjlok 1,51 persen pada perdagangan Senin kemarin.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup melemah 94,03 poin atau 1,51 persen ke level 6.147,86 pada Senin 28 September. Indeks bergerak di rentang 6.140,34-6.227,90 sepanjang perdagangan.

Pelemahan juga tercermin dari luasnya tekanan di pasar. Sebanyak 532 saham ditutup melemah, sementara 180 saham menguat dan 81 saham stagnan. Nilai transaksi tercatat sekitar Rp12,51 triliun.

Tekanan terhadap IHSG terjadi di tengah pelemahan rupiah, tingginya harga minyak, serta meningkatnya ketidakpastian geopolitik. Investor juga masih mencermati dampak penerapan batas harga minimum saham menjadi Rp1 yang mulai berlaku di BEI pada Senin.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata sebelumnya memperkirakan IHSG rentan menguji area support 6.186-6.113, dengan support berikutnya di sekitar 6.029.

“Untuk terjadi rebound, IHSG perlu kembali ke atas level 6.290 terlebih dahulu, kemudian menembus area 6.328-6.368,” ujar Liza dalam kajiannya, dikutip ANTARA.

Sementara itu, sejumlah analisis teknikal terbaru menempatkan area 6.000-6.100 sebagai zona yang perlu diperhatikan pasar setelah IHSG menembus support sebelumnya. Investor.id dalam proyeksinya untuk perdagangan Selasa (29/9) menyebut IHSG akan menguji level support 6.000-6.100.

Tekanan eksternal juga berpotensi menjadi perhatian investor. Wall Street pada Senin (28/9) bergerak melemah setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak proposal Iran terkait penghentian konflik. Perkembangan tersebut mendorong kenaikan harga minyak dan menekan bursa saham AS.

Kondisi tersebut menjadi penting bagi IHSG karena perdagangan saham Indonesia pada Senin telah berakhir sebelum sesi perdagangan saham AS dimulai. Dengan demikian, perubahan sentimen di Wall Street pada Senin malam waktu AS baru berpotensi tercermin pada perdagangan IHSG Selasa.

Di pasar valuta asing, rupiah juga menjadi perhatian. Pada perdagangan Senin pagi, rupiah berada di sekitar Rp17.948 per dolar AS, sementara sejumlah analisis sebelumnya menyoroti pelemahan rupiah sebagai salah satu faktor yang meningkatkan tekanan terhadap aset berisiko di pasar domestik.

Selain faktor global, investor akan mencermati perkembangan harga minyak, pergerakan yield US Treasury, nilai tukar rupiah, serta arus dana asing. Kondisi tersebut menjadi semakin penting karena IHSG telah melemah tiga hari perdagangan berturut-turut.

Secara teknikal, area 6.100 menjadi level penting yang perlu diperhatikan. Jika tekanan jual berlanjut dan indeks menembus area tersebut, support berikutnya berada di sekitar 6.029. Sebaliknya, apabila terjadi technical rebound, IHSG perlu kembali menembus area 6.290 sebelum berhadapan dengan resistance berikutnya di kisaran 6.328-6.368.

Dengan kondisi tersebut, pergerakan IHSG pada Selasa diperkirakan masih volatil. Investor akan mencermati respons pasar terhadap tekanan eksternal sekaligus kemampuan indeks bertahan di area support 6.000-6.100.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *