JAKARTA – Tesla Full Self-Driving (Supervised) melampaui batas kecepatan di 55 persen ruas dengan batas 30 km/jam dalam pengujian di Brussels, Belgia. Kelompok keselamatan jalan Johanna.be mencatat kendaraan rata-rata melaju 44 km/jam di ruas tersebut, sementara batas yang berlaku 30 km/jam.
Hasil pengujian itu dirilis pada 24 September 2026, kurang dari dua pekan sebelum negara-negara anggota Uni Eropa dijadwalkan memberikan suara mengenai kemungkinan penerapan persetujuan Tesla FSD di seluruh blok tersebut.
Johanna.be merupakan organisasi nirlaba di Brussels yang mengadvokasi keselamatan pejalan kaki dan pesepeda. Dalam studi bernama FSD30, para penguji mengemudikan kendaraan selama tiga hari pada Juli 2026 dengan jarak sekitar 400 kilometer.
Pengujian terutama dilakukan di jalan dengan batas kecepatan rendah, yang menurut kelompok tersebut merupakan area dengan tingkat paparan risiko lebih tinggi bagi pejalan kaki dan pesepeda.
Selain zona dengan batas 30 km/jam, Tesla FSD juga tercatat melampaui batas 20 km/jam di 42 persen ruas yang disebut “woonerven”, yakni jalan permukiman bersama yang digunakan oleh berbagai pengguna jalan.
Menurut Johanna.be, salah satu penyebabnya adalah sistem beberapa kali tidak mengenali batas kecepatan yang berlaku. Layar kendaraan disebut menunjukkan batas 50 km/jam di sebagian besar zona 30 km/jam yang dilalui selama pengujian.
Johanna.be mengutip data Organisasi Kesehatan Dunia yang menyebut pejalan kaki yang tertabrak kendaraan dengan kecepatan 44 km/jam memiliki risiko meninggal hampir enam kali lebih tinggi dibandingkan jika tertabrak pada kecepatan 30 km/jam. Brussels sendiri telah menetapkan batas 30 km/jam sebagai batas default di sebagian besar wilayahnya sejak 2021.
Studi tersebut juga mendokumentasikan beberapa kejadian ketika Tesla FSD mencoba menyalip pesepeda di “fietsstraten” atau jalan khusus sepeda. Menurut kelompok tersebut, aturan lalu lintas Belgia tidak mengizinkan mobil menyalip pesepeda di jenis jalan tersebut.
Di sisi lain, Johanna.be mencatat bahwa FSD menunjukkan perilaku memberi jalan kepada pejalan kaki dan pesepeda, bahkan dalam sejumlah situasi sebelum kendaraan diwajibkan melakukannya.
Johanna.be telah mengirimkan hasil temuannya kepada RDW, otoritas kendaraan bermotor Belanda, serta Kementerian Mobilitas Flandria pada 7 September 2026. Kelompok tersebut meminta kedua otoritas mempertimbangkan kembali persetujuan mereka sebelum pemungutan suara Uni Eropa.
Di Belgia, Menteri Mobilitas Flandria Annick De Ridder memberikan persetujuan terhadap FSD (Supervised) pada 10 Juni 2026. Keputusan tersebut diambil setelah Tesla menyelesaikan pengujian sejauh 5.000 kilometer di jalan-jalan Flandria.
Belgia kemudian menjadi salah satu negara pertama yang mengakui persetujuan sementara yang sebelumnya diberikan RDW kepada sistem tersebut.
Menanggapi studi Johanna.be kepada Reuters, juru bicara pemerintah Flandria mengatakan sistem tersebut masih “belajar” dan pengemudi tetap “100 persen bertanggung jawab”. Tesla tidak memberikan tanggapan terhadap permintaan komentar tersebut.
RDW sebelumnya memberikan persetujuan sementara terhadap FSD (Supervised) berdasarkan Peraturan Perserikatan Bangsa-Bangsa Nomor 171 pada April 2026. Setelah itu, Denmark, Belgia, Estonia, Lituania, Slovenia, dan pada pekan ini Ceko turut mengakui persetujuan tersebut secara nasional.
Tesla kini mengincar persetujuan yang berlaku di seluruh Uni Eropa. Komite Teknis Kendaraan Bermotor atau Technical Committee on Motor Vehicles dijadwalkan melakukan pemungutan suara pada 6 Oktober 2026.
Jika disetujui, Komisi Eropa dapat memperluas persetujuan RDW ke seluruh 27 negara anggota Uni Eropa. Keputusan tersebut membutuhkan mayoritas berkualifikasi, yaitu setidaknya 15 negara yang mewakili 65 persen populasi Uni Eropa.
Persoalan batas kecepatan menjadi salah satu isu yang muncul menjelang pemungutan suara tersebut. Pada Juni 2026, Swedia meminta Uni Eropa menolak FSD jika Tesla tidak menghapus kemampuan sistem untuk melampaui batas kecepatan. Norwegia dan Finlandia juga menyampaikan kekhawatiran serupa.
Pada Juli 2026, Prancis menolak mengakui persetujuan Belanda. Menteri Transportasi Prancis, Philippe Tabarot, menyebut persoalan kecepatan serta perhatian pengemudi di wilayah perkotaan sebagai bagian dari pertimbangan tersebut.
Tesla sebelumnya menyatakan melalui penelitian internalnya bahwa kendaraan dengan FSD “tidak melaju secara berlebihan” dan kecepatannya mengikuti arus lalu lintas di sekitarnya. Pernyataan tersebut menjadi bagian dari argumen perusahaan dalam menghadapi kekhawatiran mengenai kemampuan sistem mempertahankan batas kecepatan.
Hasil pengujian di Brussels kini menambah data mengenai perilaku Tesla FSD di lingkungan perkotaan dengan batas kecepatan rendah. Studi tersebut secara khusus mencatat frekuensi kendaraan melampaui batas 30 km/jam dan 20 km/jam serta sejumlah perilaku sistem terhadap pejalan kaki dan pesepeda menjelang keputusan Uni Eropa pada Oktober 2026.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
