64 Talenta Model Indonesia Unjuk Gigi di Fashion Nation 20th Edition


JAKARTA – Wajah industri modeling Indonesia semakin beragam. Tak lagi terpaku pada ukuran fisik tertentu, dunia modeling kini juga memberi ruang lebih besar bagi karakter, kepercayaan diri, kemampuan berkomunikasi, hingga keunikan setiap individu.

Potensi tersebut bahkan dinilai dapat membawa model Indonesia untuk tampil di panggung internasional. Peluang itu salah satunya terlihat melalui keterlibatan 64 talenta modeling dari berbagai daerah dalam Senayan City Fashion Nation 20th Edition.

Para model terpilih merupakan Best Student Kelas Modelling.id dari 32 cabang yang tersebar di Indonesia, mulai dari Medan hingga Makassar.

Mengusung tema ‘The Icon Edit’, Fashion Nation tahun ini berlangsung pada 18–27 September 2026 di Senayan City, Jakarta Pusat. Perhelatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari perayaan 20 tahun mal tersebut sebagai salah satu pusat gaya hidup dan mode di Jakarta.

Kelas Modelling.id kembali dipercaya hadir di panggung Fashion Nation melalui gelaran bertajuk “Everyone Can Be a Model”. Kehadiran mereka menjadi ruang bagi para talenta dari berbagai usia dan daerah untuk merasakan langsung pengalaman berjalan di runway dan berkolaborasi dengan sejumlah brand lokal.

Sebanyak 64 model yang tampil merupakan peserta terbaik dari 32 cabang Kelas Modelling.id. Menariknya, pembinaan yang dilakukan lembaga tersebut tidak terbatas pada satu kelompok usia. Pesertanya mulai dari anak-anak berusia 5–6 tahun hingga orang dewasa berusia 50 tahun.

Dr. M. Fattah Riphat, S.H., M.H., selaku Owner Kelas Modelling.id, mengatakan kesempatan tampil di Fashion Nation menjadi salah satu bentuk apresiasi terhadap perjalanan para murid sekaligus proses pembentukan karakter yang dilakukan melalui dunia modeling.

“Sejak berdiri pada 2019 dari cabang pertama hingga kini berkembang menjadi 32 cabang di tahun 2026, pencapaian ini adalah hasil kerja keras para murid dan seluruh pihak yang berkolaborasi. Di Kelas Modelling.id, kami tidak hanya mengajarkan cara berjalan di runway atau berpose di depan kamera. Yang jauh lebih penting adalah pembentukan karakter, kemampuan berkomunikasi, cara menghadapi orang, serta bagaimana membawa diri dan meningkatkan kepercayaan diri,” ujar Dr. M. Fattah Riphat, saat ditemui di Jakarta, baru-baru ini.

Menurutnya, dunia modeling juga dapat menjadi ruang bagi anak-anak dan generasi muda untuk membangun kembali keberanian bersosialisasi, terutama bagi mereka yang sempat mengalami keterbatasan interaksi selama pandemi.

“Paling utama adalah percaya diri tanpa overconfidence, tahu kelebihan dan kekurangan diri, serta memiliki etika yang baik sebelum dinilai oleh tim kurator pusat. Potensi model Indonesia untuk bersaing di kancah internasional sangat luar biasa. Kulit dan karakter wajah khas Indonesia sangat diminati oleh pihak internasional. Melalui kolaborasi dengan brand-brand lokal ini, kami membuka ruang agar talenta para murid dapat terlihat langsung oleh desainer maupun agensi,” tambahnya.

Pandangan tersebut memperlihatkan bagaimana karakter Indonesia dapat menjadi bagian dari kekuatan di industri modeling. Keragaman wajah, warna kulit, usia, dan karakter justru membuka kemungkinan lebih luas bagi model untuk mengisi berbagai kebutuhan industri kreatif.

Poppy Bunga, pendiri Kelas Modelling.id, juga menilai keberagaman tersebut perlu mendapatkan ruang. Menurutnya, peserta tidak semestinya dibatasi oleh standar kecantikan atau bentuk tubuh tertentu ketika mengembangkan potensi di dunia modeling.

“Kami fokus menggali talenta dan keunikan yang dimiliki setiap murid, bukan mengotakkan mereka pada standar fisik tertentu seperti harus tinggi atau berkulit putih. Dasar dari kebanyakan murid adalah rasa kurang percaya diri atau insecure. Di sini kami ajarkan materi secara komprehensif, termasuk teknik make-up dan komunikasi, serta memberikan jaminan kesempatan kerja (job garansi). Dari situ mereka tertantang, dan Alhamdulillah yang tadinya tidak percaya diri kini bisa membuktikan kemampuannya,” tambah dia.

Tidak hanya soal penampilan di atas runway, pembekalan juga diarahkan pada kemampuan yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari maupun lingkungan profesional. Public speaking, manner, etika berbusana, hingga kemampuan membawa diri menjadi bagian dari proses pembelajaran.

Tenno Sujarwanto, B.A., Owner Kelas Modelling.id, mengatakan pembinaan tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi lebih luas bagi perkembangan industri mode dan modeling nasional.

“Kami tidak hanya mencetak model runway. Murid-murid kami bekali dengan public speaking, manner, dan etika berbusana. Kami berharap keberadaan generasi muda yang kami bina dapat memberikan kontribusi nyata dan positif bagi perkembangan dunia fashion dan modeling di Indonesia.”

Di Fashion Nation 20th Edition, para model juga mendapat kesempatan berkolaborasi dengan sejumlah brand lokal. Pada penampilan pertama, Kelas Modelling.id membawakan koleksi dari DUST, Haidee & Orlin, Jenna & Kaia melalui lini Jenna Active, Nonaetal, dan Soleram.

Pada jadwal berikutnya, para model kembali tampil membawakan koleksi DW Exclusive dan Wou Batik. Kolaborasi tersebut menjadi kesempatan untuk mempertemukan talenta modeling dengan karya desainer dan brand lokal dalam satu panggung.

Salah satunya datang dari Jenna & Kaia yang memperkenalkan lini Jenna Active melalui koleksi Lumea. Lini tersebut dirancang untuk menjangkau konsumen yang lebih luas, termasuk pengguna hijab maupun non-hijab dengan rentang usia 18 hingga 45 tahun.

“Koleksi ini terdiri dari 8 look multifungsi yang mencakup top, bottom, vest, hingga set outer yang tidak hanya cocok untuk berolahraga, tetapi juga untuk airport style. Menggunakan bahan Tencel, kaos, dan Lycra yang nyaman, kami memadukan tren warna butter yellow dan burgundy dengan styling sneakers untuk kesan yang lebih fresh dan muda. Dalam pemilihan model, kami sengaja meminta karakter wajah Indonesia yang otentik, sedikit boyish, dan kulit tanning untuk mempertegas identitas bahwa Jenna & Kaia serta Jenna Active adalah karya asli Indonesia.”

Sementara itu, Haidee & Orlin menghadirkan koleksi busana Whispering Leaves yang mengambil inspirasi dari gaya jalanan Copenhagen. Koleksi tersebut kemudian disesuaikan dengan karakter cuaca dan kebutuhan berpakaian di Indonesia.

“Koleksi ini diperkaya dengan detail aplikasi bunga lili, payet yang dijahit tangan, serta bros pemanis. Para model dari Kelas Modelling.id mampu membawakan busana ini dengan gestur yang hidup dan penuh keceriaan, sesuai dengan konsep runway yang kami rancang.”

Kehadiran puluhan model dari berbagai daerah dalam satu panggung memperlihatkan bahwa talenta modeling Indonesia dapat tumbuh dari latar belakang yang beragam. Pengalaman tampil di panggung mode juga menjadi bagian dari proses membangun keberanian, karakter, sekaligus memperluas jejaring dengan pelaku industri kreatif.

Melalui kolaborasi antara lembaga pendidikan modeling, model, desainer, brand lokal, dan pusat perbelanjaan, Fashion Nation 20th Edition tidak hanya menjadi ajang peragaan busana. Panggung tersebut juga menjadi ruang untuk mempertemukan talenta baru dengan industri sekaligus memperlihatkan semakin beragamnya wajah dan potensi modeling Indonesia.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *