JAKARTA – Pembahasan mengenai teori kepemimpinan identik dengan suasana kaku, formal, dan penuh diksi berat yang berjarak dari kehidupan nyata. Namun, pekerja seni sekaligus praktisi pembicara publik Ita Sembiring mencoba membongkar stigma tersebut melalui buku terbarunya berjudul #HaHa Leadership.
Buku ke-26 karya alumnus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) ini resmi diluncurkan dalam acara yang berlangsung di Hotel Aryaduta Menteng, Jakarta Pusat, Jumat, 18 September.
Melalui pendekatan komedi dan refleksi diri, karya ini mengemas dinamika dunia kerja serta krisis kepemimpinan menjadi santapan yang ringan, relevan, sekaligus manusiawi.
Ita menuturkan bahwa pemilihan humor sebagai sarana penyampaian pesan bukanlah tanpa alasan. Menurutnya, komedi mampu menjadi jembatan awal untuk membuka ruang diskusi terkait isu sensitif yang kerap dihindari di tempat kerja.
“Setiap humor memiliki ruang interpretasi dan lewat komedi pula kita mampu memulai bahkan membangun percakapan sekalipun topiknya tidak mudah. Jadi melalui buku ini saya mencoba menyajikan keresahan pribadi dalam dunia kerja,” kata Ita.
Adapun proses kreatif di balik buku ini terbilang unik dan singkat. Penulis yang juga telah menghasilkan puluhan novel serta naskah film tersebut menyelesaikan draf bukunya hanya dalam kurun waktu 111 jam atau kurang dari sepekan. Momen penulisan ini dipicu oleh keputusannya mengundurkan diri dari dunia perkantoran setelah puluhan tahun berkarier.
Ita mengakui bahwa proses pengerjaan buku ini berfungsi sebagai wahana katarsis emosional untuk mengolah kekecewaan dan emosi negatif secara positif.
“Jujur menulis buku yang saya selesaikan dalam 111 jam ini, merupakan terapi jiwa dan alat bantu berkualitas untuk melepas rasa kecewa,” ujar Ita.
“Menghadapi ragam situasi dunia kerja, saya mencoba berbagi rasa termasuk cara mengelola rasa itu sendiri demi bisa memimpin diri sendiri terlebih dahulu agar selanjutnya mampu menerima pemimpin yang bagaimanapun bentuknya,” imbuhnya.
Lewat #HaHa Leadership, pembaca diajak untuk tidak sekadar menertawakan fenomena di kantor, melainkan berani bercermin dan mengevaluasi peran masing-masing.
Narasi yang dibangun menekankan bahwa sosok pemimpin ideal bukanlah sosok tanpa celah, melainkan individu yang memiliki kerendahan hati untuk terus belajar serta mampu menciptakan ekosistem kerja yang mendukung tumbuh kembang timnya.
Pendekatan ini dinilai teramat krusial di era transformasi dunia kerja modern yang menuntut fleksibilitas, kreativitas, kolaborasi, serta keberanian dalam menyampaikan gagasan.
Melalui karya nonfiksi ini, Ita berharap para pekerja maupun jajaran manajerial dapat mengenali berbagai karakter pemimpin serta respons emosional di lingkungan kerja secara lebih bijak.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
